Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Hema Milik Alibaba Korban Lockdown Sadis di Shanghai
    Insight News

    Hema Milik Alibaba Korban Lockdown Sadis di Shanghai

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa13 Juli 2022Updated:14 Juli 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Jaringan supermarket milik Alibaba, Hema, menjadi korban terbaru kebijakan lockdown tanpa toleransi pemerintah China. Bisnis yang anjlok selama lockdown di Shanghai memangkas valuasi Hema dari US$10 miliar menjadi US$6 miliar.

    Hema atau Freshhippo, menurut Reuters, sedang menggalang pendanaan dengan target US$400 juta hingga US$500 juta. Perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Alibaba ini berusaha mencari pemodal selain Alibaba.

    Namun, dalam putaran penggalangan dana ini, Hema harus merelakan valuasinya terpangkas dari US$10 miliar menjadi US$6 miliar. Ini berarti nilai perusahaan jatuh sekitar Rp 60 triliun, dalam jangka waktu kurang dari setahun.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Penyebab anjloknya nilai perusahaan Hema, menurut Reuters, adalah dampak lockdown di Shanghai terhadap bisnis perusahaan.

    Pembatasan aktivitas yang ekstrem yang diterapkan pemerintah China untuk membendung wabah Covid-19, memukul pendapatan Hema, yang selama ini masih beroperasi rugi. Investor makin skeptis terhadap kemampuan Hema mencetak laba dalam waktu dekat.

    Alibaba dan Hema tidak merespons permintaan konfirmasi dari Reuters.

    Turunnya valuasi Hema adalah bagian dari tren global, yaitu makin rendahnya minat investor untuk mendukung perusahaan teknologi yang belum mampu membukukan profit. Contoh paling ekstrem adalah Klarna, perusahaan pay later asal Swedia, yang nilai perusahaannya jatuh 85% dari US$46 miliar menjadi US$6,7 miliar.

    Di China, penggalangan dana untuk startup juga terimbas oleh langkah regulator yang agresif menindak pelanggaran di sektor industri teknologi, gim, dan pendidikan. Meskipun regulator mulai melunak dalam beberapa bulan terakhir, investor masih ragu-ragu untuk menanamkan modal di China.

    Hema, yang berdiri pada 2015, mengoperasikan 300 toko di 27 kota yang menawarkan layanan pengiriman barang belanjaan. Konsumen yang mengunjungi toko bisa memilih langsung produk yang mereka beli (terutama produk bahan makanan segar), kemudian produk-produk tersebut dikirim ke rumah mereka. 

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Fintech Jack Ma Belum Bisa Bernafas Lega, ini Buktinya

    (dem)


    High Technology Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.