Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Heboh Aplikasi Pembunuh UMKM Mau Masuk RI, Ini Respons Pemerintah
    Insight News

    Heboh Aplikasi Pembunuh UMKM Mau Masuk RI, Ini Respons Pemerintah

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa2 Oktober 2024Updated:2 Oktober 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Eksistensi aplikasi Temu kembali menjadi perbincangan di media sosial X, setelah adanya cuitan yang mengulas presentasi salah satu narasumber pada acara E-Commerce Expo tentang bahaya aplikasi Temu.

    Dari pantauan CNBC Indonesia di media sosial X, akun bernama Fadel @halofadel dalam unggahannya bernarasi, “Udah siap revolusi industri selanjutnya? Cari tau logo ini, cari tau mereka ngapain. Kabar di Expo sirclo minggu lalu masih lobi2, kalo jadi masuk bakal lebih heboh dari kasus tiktok shop awal2.”

    Dalam cuitan tersebut Fadel juga menyertakan sebuah unggahan gambar, berupa foto seorang pria yang tengah melakukan presentasi dengan latar belakang layar menunjukkan logo aplikasi Temu.

    Menanggapi unggahan tersebut, Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, pihaknya selalu berharap aplikasi yang dapat merusak dan berdampak kepada industri Tanah Air harus dilarang masuk ke Indonesia. Katanya, jangan sampai ada kebijakan yang dapat membuat pasar domestik tidak ramah dengan produk manufaktur dalam negeri.

    “Bagi kami, sepanjang aplikasi tersebut bisa merusak dan berdampak pada industri dalam negeri, membuat industri dalam negeri suffer, menderita, serta mengalami penurunan permintaan. Tentu kami berharap aplikasi itu jangan diperbolehkan masuk ke Indonesia. Ya kami berharap begitu. Jangan sampai ada kebijakan yang membuat pasar domestik itu tidak ramah dengan produk manufaktur dalam negeri,” ucap Febri saat ditemui di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (2/10/2024).

    Sementara itu, Staf Khusus Menteri Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) Fiki Satari mengatakan, pemerintah saat ini terus berkomitmen untuk mengawal dan memastikan agar aplikasi Temu tidak masuk ke Indonesia.

    “Jika Temu sampai masuk ke Indonesia, ini akan sangat membahayakan UMKM dalam negeri. Apalagi platform digital dari Cina ini bisa memfasilitasi transaksi secara langsung antara pabrik di China dengan konsumen di negara tujuan ini akan mematikan UMKM,” kata Fiki dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (2/10/2024).

    Fiki menjelaskan, aplikasi Temu memiliki konsep menjual barang langsung dari pabrik ke konsumen tanpa adanya seller, reseller, dropshipper maupun afiliator sehingga tidak ada komisi berjenjang. Hal tersebut ditambah dengan adanya subsidi yang diberikan platform membuat produk di aplikasi dihargai dengan sangat murah.

    “Mereka sudah masuk ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa, bahkan sekarang sudah mulai ekspansi ke Kawasan Asia Tenggara, khususnya di negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Maka kita harus terus kawal agar tidak masuk ke Indonesia,” tuturnya.

    Dia mengungkapkan bahwa sejak September 2022 lalu aplikasi Temu telah berupaya mendaftarkan merek sebanyak tiga kali di Indonesia. Bahkan pada 22 Juli 2024, aplikasi Temu sempat mengajukan ulang pendaftarannya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemenkumHAM).

    “Aplikasi TEMU dari China ini sudah coba mendaftarkan merek, desain, dan lainnya ke DJKI, tapi tidak bisa karena sudah ada perusahaan asal Indonesia dengan nama serupa dan dengan KBLI yang mayoritas sama. Tapi kita tidak boleh lengah, harus kita kawal terus,” tegasnya.

    Fiki berharap agar KemenkumHAM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta stakeholders terkait dapat bersinergi mencegah masuknya marketplace TEMU ke Indonesia.

    “Hal ini diperlukan semata-mata demi melindungi pelaku usaha di dalam negeri khususnya UMKM,” kata Fiki.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Better care for more people, Bridging the gaps in healthcare




    Next Article



    Aplikasi China Pembunuh Alibaba Mau Jajah RI, Pemerintah Lakukan Ini



    Techno for life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.