Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Hari Raya Idul Fitri Tanggal Berapa? Ini Penjelasan Astronom
    Insight News

    Hari Raya Idul Fitri Tanggal Berapa? Ini Penjelasan Astronom

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa14 April 2023Updated:14 April 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pelaksanaan Idul Fitri tahun ini kemungkinan akan berbeda. Hal tersebut akan berbeda dengan penetapan awal bulan Ramadan yang sama yakni pada 23 Maret 2023.

    Potensi tersebut karena posisi Bulan di Indonesia pada maghrib tanggal 20 April 2023 belum memenuhi kriteria baru MABIMS. Kriteria tersebut adalah tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

    Sementara itu posisi bulan saat itu telah memenuhi kriteria wujudul hilal. Jika merujuk pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), Idul Fitri akan jatuh pada 22 April 2023, sedangkan wujudul hilal membuat 1 Syawal pada hari sebelumnya yakni 21 April 2023.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Thomas Djamaluddin, peneliti Astronomi dan Astrofisika BRIN menjelaskan juga terdapat prasyarat utama untuk unifikasikalender Hijriyah. Yakni adanya otoritas tunggal untuk menentukan kriteria dan batas tanggal agar bisa diikuti bersama.

    Kondisi sekrang adalah otoritas tunggal bisa dilakukan pada tingkat nasional atau regional. Penentuan mengacu pada batas wilayah menjadi satu wilayah sesuai dengan kedaulatan negara.

    “Kriteria diupayakan untuk disepakati bersama dan jika terdapat perbedaan jangan menjadi sebuah gesekan,” kata dia.

    Thomas juga mengharapkan pemerintah bisa mengusahkan adanya satu sistem tunggal di masa depan. Dengan begitu otoritas tunggal dapat membuat satu kalender yang disepakati bersama dan menjadi rujukan seluruh pihak serta mempersatukan umat.

    Sementara itu, bulan Ramadhan kali ini umat muslim dapat melakukan bersama. Di Indonesia sendiri awal puasa dilakukan dengan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan).

    Thomas mengatakan untuk penentuan tersebut berdasarkan kriteria yang disepakati bersama. Sedangkan untuk kriteria hilal diadopsi pada dalil hukum agama mengenai awla bulan dan kajian astronomis yang sahih.

    Rukyat memerlukan verifikasi kriteria untuk menghindari kemungkinan rakyat keliru. Sementara hisab tidak bisa tanpa adanya kriteria untuk menentukan masuknya awal bulan.

    “Sehingga kriteria menjadi dasar pembuatan kalender berbasis hisab yang dapat digunakan dalam prakiraan rukyat,” kata Thomas.


    Techno for life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.