Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Geger Bayi 1 Tahun Beratnya 25 Kg, Ini Penyebab dan Faktanya!
    Inspiring You

    Geger Bayi 1 Tahun Beratnya 25 Kg, Ini Penyebab dan Faktanya!

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman25 Februari 2023Updated:25 Februari 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Seorang bayi laki-laki berusia 1 tahun menjadi perbincangan hangat di media sosial beberapa saat lalu. Pasalnya, bayi asal Bekasi, Jawa Barat tersebut memiliki bobot di atas rata-rata anak seusianya.

    Bayi montok itu dikatakan memiliki bobot 25 kg. Padahal, berdasarkan kurva pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berat badan ideal anak laki-laki usia 1 tahun adalah 9,7 kg.

    Berat badan 13,4 kg untuk usia tersebut sudah masuk dalam kategori obesitas. Berdasarkan indikator tersebut, bayi viral ini memiliki bobot tak wajar.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Tubuhnya gempal. Pipinya mendominasi hampir seluruh wajah. Alhasil, netizen membanjiri konten bayi tersebut dengan beragam komentar.

    “1 tahun, berat 25 kg, Boboho kalah ini, mah,” kata akun TikTok yang mengunggah video bayi tersebut, @ismibossgep78, dikutip Sabtu (25/2/2023).

    Video tersebut pun sontak mengundang kritik dari warganet. Terlebih, bayi itu disebutkan sudah mengonsumsi berbagai camilan instan yang dibeli di warung sejak berusia enam bulan.

    “Kasihan jantungnya. Harusnya berkembang dengan baik tapi terhimpit lemak. Semoga ada pihak terkait membantu untuk adik ini bisa normal. Sehat-sehat, nak, doaku untukmu,” ujar pengguna TikTok lainnya.

    Dilansir dari Mayo Clinic, obesitas pada anak merupakan kondisi medis yang sangat serius. Sebab, obesitas pada anak dapat memicu komplikasi fisik lainnya, seperti diabetes tipe 2, kolesterol, tekanan darah tinggi, nyeri sendi, masalah pernapasan, hingga penyakit hati berlemak non-alkohol.

    Camilan instan dan makanan cepat saji (junk food) yang kerap dikonsumsi anak bisa menjadi salah satu pemicu utama terjadinya obesitas. Selain obesitas, anak-anak yang mengonsumsi junk food juga berisiko mengalami gangguan kesehatan usus, stroke, penyakit jantung, hingga gangguan fokus.

    Berkaitan dengan hal itu, para peneliti dari Prevention Institute pun mengaitkan peningkatan diabetes, hipertensi, dan stroke dengan konsumsi junk food. Anak-anak yang rutin mengonsumsi junk food ditemukan lebih berisiko terserang penyakit kronis.

    Menurut studi yang dipublikasikan Pediatrics pada 2004, anak-anak yang mengonsumsi junk food mengandung kalori, lemak, karbohidrat, dan gula tambahan cenderung berisiko tinggi mengalami obesitas.

    Selain itu, studi yang sama juga menemukan sebagian besar anak-anak penggemar junk food ogah mengonsumsi serat, susu, buah, dan sayuran sehingga asupan gizi tidak seimbang.

    (tib)


    Techno update True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.