Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Gara-Gara 2 Orang Ini, Warga Indonesia Doyan Makan Gorengan
    Inspiring You

    Gara-Gara 2 Orang Ini, Warga Indonesia Doyan Makan Gorengan

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman21 Maret 2024Updated:21 Maret 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Menyantap gorengan adalah kebiasaan masyarakat Indonesia. Nampaknya tak sedap apabila sehari saja tak makan gorengan. Maka tak heran apabila permintaan minyak goreng di Indonesia begitu tinggi.

    Namun, rupanya dalam sejarah, menyantap gorengan awalnya bukan kebiasaan umum masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia baru masif dalam kegiatan menggoreng sejak tahun 1990-an, ketika minyak goreng dari kelapa sawit ada di pasaran dalam jumlah besar.

    Nah, belum banyak orang tahu, dua sosok ini ternyata berperan besar dalam membuat orang Indonesia menyukai gorengan. Peran besar keduanya terletak karena keberhasilannya merintis industri minyak goreng yang berdampak langsung atas kebiasaan makan gorengan.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Siapa orang itu? Keduanya adalah Eka Tjipta Widjaja dan Sudono Salim.

    Perlu diketahui, budaya menggoreng memang sudah dikenal di Indonesia sejak abad ke-16 ketika orang China dan Eropa datang. Lambat laun, teknik menggoreng makin populer karena dua hal.

    Pertama, munculnya minyak kelapa sebagai bahan baku pada abad ke-19 yang memudahkan proses penggorengan. Kedua, diperkenalkannya mentega sebagai bahan menggoreng oleh bangsa Eropa, khususnya Belanda.

    Fadly Rahman dalam Jejak rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (2016) menyebut mentega menjadi andalan untuk menggoreng di Hindia Belanda pada abad ke-20. Pada kurun waktu tersebutlah muncul merek mentega ternama, yakni Blue Band.

    Dari sini kemudian lahir variasi makanan dari hasil menggoreng, yang kini disebut sebagai gorengan, seperti pisang goreng dan tempe goreng. Namun, hadirnya gorengan bukan berarti bisa dinikmati tiap saat oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebab, mentega dan minyak kelapa sulit dijangkau karena harganya mahal.

    Hingga akhirnya itu semua berubah ketika industri minyak sawit di Indonesia muncul.

    Kemunculan Minyak Goreng

    Titik baliknya terjadi ketika Presiden Soeharto berkuasa sejak 1966. Soeharto memperbolehkan pihak swasta merintis industri sawit untuk mempopulerkan minyak goreng yang lebih terjangkau masyarakat.

    Izin ini kemudian dimanfaatkan oleh pengusaha Eka Tjipta Widjaja. Pada 1968, Eka memproduksi Bimoli sebagai minyak goreng premium pertama di Indonesia. Bimoli merupakan singkatan dari Bitung Manado Oil.

    Dua tahun kemudian industri minyak goreng di Indonesia semakin ramai ketika Liem Sioe Liong alias Sudono Salim ikut serta. Alhasil, sejak tahun 1970-an, keduanya pun seketika menjadi pemain besar di industri minyak goreng.

    Eka Tjipta Widjaja menghasilkan minyak merek Filma dan Kunci Mas. Lalu Salim memproduksi minyak merek Bimoli, yang awalnya dirintis oleh Eka lalu diambilalih oleh Salim. Namun, khusus nama terakhir dia tidak hanya produksi Bimoli, tetapi juga kunci pembuatan gorengan lain, yakni tepung terigu merek Bogasari pada 1970.

    Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016), hadirnya merek Bogasari membuat masyarakat Indonesia mudah menjangkau tepung. Tepung jadi lebih murah dan membuat penduduk terbiasa mengkonsumsi makanan olahan tepung.

    Pada titik ini, di dapur masyarakat Indonesia sudah ada tepung dan minyak goreng. Kombinasi kedua bahan itulah yang jadi kunci pembuatan gorengan. Tepung dan minyak goreng pun kemudian jadi bisnis penting di Indonesia sepanjang kepemimpinan Presiden Soeharto.

    Dukungan penguasa yang kuat membuat bisnis Salim dan Eka Tjipta mendominasi pasar. Bahkan, Bustanil Arifin dalam Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia (2004) menyebut, Bimoli pernah menguasai 75% pasar minyak goreng dalam negeri di era Orde Baru.

    Atas dasar inilah, orang Indonesia makin terbiasa dengan gorengan, atau olahan lain dari tepung terigu yang digoreng. Lantas, terjadilah perubahan menu konsumsi masyarakat sejak 1990-an.

    Gorengan kemudian menjadi sesuatu yang tak bisa dilepaskan dari menu makanan harian masyarakat. Dari pagi, siang, dan malam, pasti mengonsumsi gorengan. Di pinggir jalan ada tukang gorengan. Saat momen-momen tertentu masyarakat jadi makan gorengan.

    Jadi, Salim, dan Eka Tjipta secara tidak langsung adalah sosok yang mengajari rakyat Indonesia membiasakan diri menikmati gorengan di tiap momen kehidupan.

    (mfa/mfa)


    Innovation Selalu Semangat
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.