Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Dulu Banjir Modal, Startup Quick Commerce di Ujung Tanduk?
    Insight News

    Dulu Banjir Modal, Startup Quick Commerce di Ujung Tanduk?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa21 Desember 2022Updated:21 Desember 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Lanskap fundraising atau pendanaan yang kini sedang mengering disebut sebagai ujian yang mengungkapkan keberlanjutan dari model bisnis startup quick commerce.

    “Perusahaan yang benar-benar bertahan di winter ini akan terbukti selamat dari situasi pasar yang turun. Jadi sedikit banyak, pasar melakukan banyak pekerjaan untuk kami,” kata Jessica Koh, direktur investasi di Vertex Ventures, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (20/12/2022).

    Salah satu “seleksi pasar” yang ekstrem terjadi di sektor bisnis quick commerce. Quick commerce adalah platform belanja yang bisa mengirimkan pesanan sampai ke tangan pelanggan hanya dalam waktu kurang dari 30 menit.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Perusahaan quick commerce Indonesia Bananas mengumumkan pada bulan Oktober bahwa mereka menutup operasi e-grocery setelah gagal menjalankan roda bisnis.

    Perusahaan e-grocery yang berbasis di Indonesia, HappyFresh, menghentikan operasinya di Malaysia setelah tujuh tahun, sedangkan Grab menghentikan layanan perdagangan cepat GrabMart Kilat di Indonesia.

    Jika dilihat secara global, beberapa perusahaan global seperti Gopuff, Gorillas, Jiffy, Getir, Zapp dan Buyk, mengumumkan pemutusan layanan, pivot strategi, atau PHK.

    “Model quick commerce 15 menit di Asia Tenggara sangat sulit karena unit ekonominya sangat negatif. Ukuran keranjang dan ukuran pesanan cukup kecil,” kata Teo dari Altara Ventures.

    Dengan banjir suntikan dana yang sekarang tersapu, makin jelas perusahaan mana yang tidak siap menghadapi lingkungan yang penuh tantangan saat ini, kata Tan dari Insignia.

    Potensi pasar quick commerce di Indonesia sebelumnya telah menarik sejumlah startup untuk menggarap sektor ini dan mengundang minat investor sebagai pendukung mereka. Dana bernilai miliaran rupiah telah ditanamkan ke startup quick commerce.

    Namun para startup juga harus bersaing dengan pemain besar dari peritel raksasa hingga para unicorn.

    Astro adalah salah satu yang paling banyak menyedot modal. Terakhir, startup ini mengumpulkan US$27 juta atau sekitar Rp 395 miliar melalui pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Accel dan Sequoia Capital India.

    Lalu, ada Dropezy yang terakhir mengumumkan pendanaan pra-seri A senilai $2,5 juta. Selain Forge Ventures sebagai investor utama, founder Kopi kenangan dan Bukukas ikut memodali startup ini. Waktu pengiriman yang dijanjikan oleh Dropezy adalah 20 menit ke berbagai titik di wilayah Jabodetabek.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Data Investasi Startup Terbaru, Sinar Mas Sampai Sandra Dewi

    (dem/dem)


    Innovation Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.