Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Dua Raja Ecommerce RI Bersaing Ketat Dikejar TikTok
    Insight News

    Dua Raja Ecommerce RI Bersaing Ketat Dikejar TikTok

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa21 Juni 2023Updated:21 Juni 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Ekspansi TikTok yang agresif ke industri ecommerce ternyata masih belum mengancam pemain besar. Shopee dan Tokopedia masih menjadi yang terdepan, bertarung ketat memperebutkan mahkota raja ecommerce Indonesia.

    Shopee dan Tokopedia bersaing ketat memimpin pasar belanja online RI yang nilainya mencapai US$ 51,9 miliar atau nyaris menyentuh Rp 775 triliun sepanjang 2022.

    Berdasarkan hasil riset Momentum Works, Indonesia masih menjadi pasar terbesar belanja online di Asia Tenggara. Sekitar 52 persen dari nilai produk yang dijual (gross merchandise value /GMV) di Asia Tenggara terjadi di pasar Indonesia.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Indonesia dikuasai oleh dua platform ecommerce terbesar milik dua konglomerasi teknologi raksasa regional, yaitu Shopee dan Tokopedia.

    Shopee, anak usaha Sea Ltd yang bermarkas di Singapura, menguasai 36 persen dari total GMV ecommerce RI. Tokopedia yang kini telah merger dengan Gojek menjadi GoTo, menguasai 35 persen GMV.

    Dua ecommerce berikutnya juga bersaing ketat di papan tengah, yaitu Bukalapak dan Lazada. Keduanya membukukan market share 10 persen pada 2022. TikTok yang dalam setahun terakhir agresif merekrut pedagang ke platform TikTok Shop miliknya, kini menguasai 5 persen GMV diikuti oleh Blibli sebesar 4 persen.

    TikTok memang dikabarkan memasang target ambisius untuk platform belanja online tersebut pada tahun ini. Transaksi penjualan (GMV) dipatok sampai US$ 20 miliar atau setara Rp 297 triliun, menurut sumber dalam perusahaan.

    Angka itu jauh meningkat ketimbang GMV 2022 sebesar US$ 4,4 miliar. Optimisme TikTok berasal dari pertumbuhan signifikan di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

    Firma riset Insider Intelligence menyebut pengguna aktif TikTok di Asia Tenggara mencapai 135 juta hingga Q1 2023. Indonesia menjadi negara yang berkontribusi paling besar dengan basis pengguna 113 juta.

    Ambisi TikTok Shop

    Potensi TikTok Shop tak bisa diremehkan pemain e-commerce lama seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Padahal, TikTok Shop baru hadir di Asia Tenggara pada 2021 lalu.

    Menurut survei dari firma riset Cube Asia, pengeluaran pengguna di TikTok Shop membuat mereka mengurangi pengeluaran di Shopee dan Lazada.

    Di Indonesia, Thailand, dan Filipina, pengeluaran pengguna di Shopee turun 51% karena alokasinya pindah ke TikTok Shop. Sementara di Lazada turun 45% dan di gerai offline anjlok 38%.

    Secara spesifik di Indonesia, TikTok Shop mengantongi GMV US$ 2,5 miliar dalam periode 3 bulan di Q1 2023, menurut data Cube Asia.

    Namun di satu sisi, GMV Shopee memang masih jauh di atas TikTok Shop. Sepanjang 2022 GMV Shopee mencapai US$ 73,5 miliar. Sementara itu, Lazada meraup GMV US$ 21 miliar.

    Ambisi TikTok menguasai industri ecommerce di Indonesia makin terlihat jelas. Bahkan, CEO TikTok Shou Zi Chew datang langsung ke RI dan memilih bertemu Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.

    Sebelum menggelar konferesi pers pada Kamis (15/6/2023), Shou hari sebelumnya lebih dulu sowan ke kantor Mendag.

    Shou mengungkapkan kunjungannya ke Indonesia secara khusus ingin bertemu dengan Mendag untuk berterima kasih secara langsung.

    Ia mengklaim izin yang dimiliki oleh TikTok Shop membuat perusahaan bisa menggaet 5 juta pelaku bisnis untuk berjualan lewat TikTok.

    Dari 5 juta pedagang di TikTok, mayoritas adalah UMKM dan 2 juta di antaranya sudah membuka lapak di TikTok Shop.

    “Saya ingin bekerja dengan regulator untuk memastikan bahwa TikTok akan aman untuk pengguna Indonesia. Salah satu harapannya adalah barang Indonesia dapat dijual tak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri melalui platform TikTok,” kata dia.

    Shou berkomitmen untuk terus berkembang dan berinvestasi di Indonesia. Ia mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting di dunia dan pasar terpenting kawasan Asia Tenggara.

    Zulkifli mengatakan TikTok memiliki pengaruh besar terhadap ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia, khususnya dalam mempercepat proses digitalisasi.

    “Tidak hanya menjadi platform hiburan, TikTok juga berpengaruh besar terhadap ekosistem UMKM Indonesia. Kami senang, perkembangan digital seperti TikTok mempermudah pertemuan antara pembeli dengan produsen,” kata Zulkifli pada Shou, dikutip dari keterangan resmi yang diterima CNBC Indonesia.


    Artikel Selanjutnya


    Perang Ecommerce Lawan TikTok, Instagram Akhirnya Menyerah!

    (dem/dem)


    Mind your business Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.