Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Diguyur Rp 53 Triliun, Startup Tukang Caplok Brand Bangkrut
    Insight News

    Diguyur Rp 53 Triliun, Startup Tukang Caplok Brand Bangkrut

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa29 Februari 2024Updated:3 Maret 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, CNBC Indonesia – Thrasio, perusahaan brand aggregator di ecommerce Amazon, dalam proses bangkrut.

    Perusahaan brand aggregator adalah perusahaan yang mengakuisisi brand ternama di ecommerce untuk kemudian dikelola dalam satu grup. Model bisnis ini serupa dengan model bisnis Unilever atau P&G, yang mengelola banyak brand FMCG dalam satu payung untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan produksi.

    CNBC International melaporkan bahwa Thrasio mengajukan perlindungan kebangkrutan di pengadilan di negara bagian New Jersey.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Thrasio menyatakan para kreditur telah setuju untuk memangkas utang senilai US$ 495 juta. Beberapa kreditur juga berkomitmen menyediakan dana segar senilai US$ 90 juta yang akan digunakan untuk meneruskan operasi sehingga para brand di bawah Thrasio bisa terus berjualan.

    “Thrasio adalah salah satu pedagang pihak ketiga terbesar di marketplace Amazon. Dengan neraca yang lebih kuat dan modal baru, kami bisa lebih baik mendukung brand kami, mengembangkan infrastruktur, dan mencari peluang baru,” kata CEO Thrasio Greg Greely.

    Thrasio dan aggregator lainnya telah menggalang dana miliaran dolar AS dari investor selama beberapa tahun terakhir. Sejak berdiri, Thrasio telah mengumpulkan dana investor senilai US$ 3,4 miliar (Rp 53 triliun). Perusahaan juga sempat menjajaki untuk melantai di bursa saham lewat merger dengan SPAC.

    Aggregator biasanya mengandalkan data keahlian operasional untuk mendongkrak penjualan brand di ecommerce. Namun, kelesuan penjualan di ecommerce setelah pandemi berakhir membuat investor lebih hati-hati.

    Pada 2022, Thrasio melakukan PHK yang berimbas kepada 20 persen karyawannya. Pendiri perusahaan, Josh Silberstein, juga telah hengkang.

    Beberapa startup di Indonesia juga menjalankan bisnis brand aggregator, yaitu Una Brand, Hypefest, dan Open Labs milik Bukalapak.




    Hitech for better life Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.