Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Covid Varian Baru Ancam Indonesia? Ini Kata Menkes
    Insight News

    Covid Varian Baru Ancam Indonesia? Ini Kata Menkes

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa17 Januari 2023Updated:18 Januari 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengklaim keadaan pandemi Covid-19 di Indonesia telah terkendali. Menurutnya, ada dua hal yang jadi kuncinya.

    Pertama, mendeteksi perkembangan kasus di dalam negeri dengan metode genome sequencing. Menurutnya kunci utamanya adalah mengetahui ‘musuh’ yang tengah dihadapi.

    “Kenaikan dari kasus omicron bukan disebabkan oleh mobilitas. Bukan lebaran, tahun baru. Ini disebabkan oleh varian baru. Musuhnya baru, terorisnya baru,” kata Budi dalam acara Rakornas Kepala Daerah dan Forkopimda Tahun 2023, Selasa (17/1/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam paparannya, Budi menjelaskan gelombang terbesar terjadi pada varian omicron di Indonesia. Saat itu kasusnya mencapai 60 ribu kasus/hari, meski korbannya tak sebanyak saat varian Delta menyebar.

    Namun, saat negara lain mengalami gelombang besar kasus, nasib berbeda terjadi di dalam negeri. Di Indonesia, Budi mengatakan hanya ada peningkatan tipis pada saat itu.

    “Di negara-negara lain terjadi juga 2 gelombang besar, omicron BA.4-BA.5 di sekitar Juli-Agustus, kita naiknya sedikit. Sekarang BQ.1 dan XBB, kita juga naiknya sedikit,” ungkapnya.

    Sejauh ini sudah ada 12 laboratorium di seluruh Indonesia untuk melakukan genome sequencing. Budi mengatakan dengan cepat pihaknya bisa mengidentifikasi varian baru yang beredar saat itu.

    “Setiap hari kita monitor kalau ada varian-varian baru,” kata Budi.

    Kunci kedua terkait daya tahan masyarakat. Ini diukur melalui sero survey yang dilakukan per 6 bulan sejak awal tahun lalu.

    Saat itu 87% rakyat Indonesia diketahui memiliki daya tahan dengan level 400. Angka itu naik sebelum lebaran mencapai 2.000-an pada 99,5% masyarakat.

    Dengan hasil ini juga membuat pemerintah bisa menentukan kebijakan lebih lanjut di tengah masyarakat. “Kenapa buka aja lebaran, karena kita tahu daya tahan tinggi. Kalau ada masuk varian baru, tetap gelombangnya kecil,” jelasnya.

    Budi juga menjanjikan hasil terbaru akan dirilis dalam waktu depan. “Sekarang lagi jalan, hasilnya mudah-mudahan keluar 1-2 minggu,” kata Budi.

    [Dexpert.co.id]

    (tib)


    Innovation Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.