Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»China Tak Butuh Amerika, Sudah Diblokir Masih Cuan Gede
    Insight News

    China Tak Butuh Amerika, Sudah Diblokir Masih Cuan Gede

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa8 November 2024Updated:9 November 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun terakhir makin gencar memberlakukan sanksi dagang ke China. Salah satunya di sektor teknologi.

    AS memblokir akses China untuk mendapatkan teknologi chip dan alat pembuat chip canggih karena dikhawatirkan akan memperkuat militernya.

    Namun, hal ini tak melumpuhkan upaya China dalam mengembangkan teknologinya. Bahkan, pemerintah China makin termotivasi mengembangkan chip canggih secara mandiri.

    Terbukti, pembuat chip terbesar di China, SMIC, berhasil unjuk gigi dan mencatat pertumbuhan positif. Untuk kuartal September 2024, pendapatan SMIC naik 34% menjadi US$2,17 miliar.

    Hal tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar yang mematok pendapatan SMIC di angka US$2,2 miliar, menurut data LSEG.

    Dikutip dari Reuters, Jumat (8/11/2024), pertumbuhan SMIC disokong oleh inisiatif lokalisasi yang dikumandangkan pemerintah. Salah satunya dengan mendorong klien internasional untuk memindahkan produksi chip ke manufaktur dalam negeri.

    Sebelumnya, SMIC lebih fokus memproduksi node chip untuk perangkat elektronik sederhana. Namun, fokus perusahaan berubah seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik AS dan China sejak 3 tahun lalu.

    SMIC menjadi pemasok chip ke Huawei yang memungkinkan perusahaan itu membawa gebrakan ponsel dengan dukungan jaringan 5G setelah tiga tahun masuk daftar hitam AS.

    Kendati pencapaian perusahaan moncer pada tahun ini, namun SMIC mempersiapkan diri menghadapi tren penurunan pada 2025 mendatang. Hal ini diungkap co-CEO Zhao Haijun dalam laporan kinerja perusahaan.

    “Tingkat utilisasi industri berkisar sekitar 70%, jauh di bawah tingkat optimal 85%, yang menunjukkan kelebihan kapasitas yang signifikan. Situasi ini sepertinya tidak akan membaik secara signifikan, atau bahkan semakin memburuk,” kata dia.

    Pengeluaran tahunan perusahaan naik dari US$7,3 miliar pada 2023 menjadi US$4,5 miliar di 2024. Zhao mengindikasikan bahwa kondisi kelebihan suplai saat ini akan membuat SMIC lebih berhati-hati melakukan ekspansi kapasitas di masa mendatang.

    “Kami belum mengumumkan proyek baru dan kami saat ini belum mendiskusikannya,” kata dia.

    Data LSEG menunjukkan pemasukan bersih SMIC naik 58% menjadi US$148,8 juta pada Juli-September, tetapi masih sedikit di bawah ekspektasi analis di angka US$199,71 juta.

    Untuk Q4 2024, perusahaan memprediksi pendapatannya akan stagnan dengan pertumbuhan 2% secara kuartal-ke-kuartal (QoQ).

    Saham SMIC naik 3,7% pada pembukaan perdagangan di Hong Kong Jumat (8/11) ini waktu setempat.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Pengelola Aplikasi Tegas Tutup Merchant Terindikasi Judi Online




    Next Article



    Joe Biden Menggila Lumpuhkan China, Belanda hingga Jepang Diseret



    High Technology Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.