Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»China Makin Ganas Lawan AS, Biden Sia-Sia Blokir Teknologi
    Insight News

    China Makin Ganas Lawan AS, Biden Sia-Sia Blokir Teknologi

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa2 April 2024Updated:2 April 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Keputusan pemerintah Joe Biden memblokir impor chip AI ke China bakal sia-sia. Pasalnya, perusahaan lokal China punya caranya sendiri bertahan tanpa bantuan teknologi Amerika Serikat (AS).

    Gap antara AS dan China di bidang AI memang cukup besar. Misalnya pasar investasi terbesar tetap dimiliki oleh AS.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    CB Insights melaporkan pendanaan startup AI negara itu cukup banyak. Di AS terjadi 1.151 kesepakatan dengan total US$31 miliar (Rp 492 triliun), dibandingkan dengan China hanya mengantongi 68 transaksi dengan jumlah US$2 miliar (Rp 31,8 triliun).

    Namun China punya cara lain menutup kesenjangan tersebut. Yakni dengan menggunakan sumber terbuka Meta, model bahasa besar Llama 1.

    Cara tersebut bukan tanpa tantangan. Karena model bahasa besarnya cukup tertinggal dari yang digunakan raksasa teknologi di AS.

    “Banyak model di China yang merupakan cabang dari Llama dan tertinggal satu hingga dua tahun di belakang perusahaan terkemuka AS OpenAI dan model video-ke-teks milik Sora,” kata investor AI, Rui Ma, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (2/4/2024).

    China juga punya kekuatan lain, yakni talenta digital yang cukup unggul dibandingkan dengan AS. Bahkan disebut bisa membuat perbedaan pada persaingan AI di masa depan.

    Studi dari lembaga think tank, Marco Polo yang dijalankan Paulson Institute menunjukkan AS menjadi tujuan bagi talenta elit AI. Jumlah 57% dari institusi elit yang ada di negara tersebut.

    Namun China unggul dalam menghasilkan peneliti AI kelas atas dengan gelar sarjana. Jumlahnya 47% berbanding 18% yang dimiliki AS.

    Selain itu, AS yang menjadi rumah bagi banyak perusahaan teknologi juga banyak mempekerjakan orang China. Peneliti AI dari China mencapai 38% berada di institusi AS, berada sedikit di atas peneliti lokal berjumlah 37%.




    Techno for life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.