Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Cerita Dosen Berhenti Mengajar karena ChatGPT, Begini yang Dihadapi
    Insight News

    Cerita Dosen Berhenti Mengajar karena ChatGPT, Begini yang Dihadapi

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa4 Oktober 2024Updated:5 Oktober 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Seorang dosen memutuskan keluar dari pekerjaanya. Alasannya karena ketergantungan mahasiswanya pada chatbot AI seperti ChatGPT.

    “Saya berhenti karena model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT,” kata dosen yang juga doktor bidang Hispanik, Victoria Livingstone dalam sebuah artikel di laman Time, dikutip Jumat (4/10/2024).

    Dia menjelaskan menulis merupakan sebuah proses terkait berpikir. Menulis merupakan pekerjaan yang sulit dan menakutkan.

    Namun AI membuat semuanya tampak lebih mudah. Menurut Livingstone, para siswanya mengatasi proses yang tidak nyaman dalam proses menulis dengan teknologi tersebut.

    Mahasiswanya sangat bergantung dengan AI generatif. Bahkan mengakui menyusun penelitiannya dengan ChatGPT.

    Ini semua dilakukan mereka meski tahu LLM bukan alat yang bisa diandalkan untuk menulis. Termasuk tidak bisa menghasilkan penelitian baru.

    “Saya mengingatkan mahasiswa jika ChatGPT bisa mengubah makna teks saat diminta merevisi, hal itu bisa menghasilkan informasi bias dan tidak akurat, tidak menghasilkan tulisan yang kuat secara gaya dan untuk yang berorientasi pada nilai, tidak menghasilkan A,” jelasnya.

    Livingstone menjelaskan siswanya sangat bergantung dengan alat parafrase berbasis AI seperti Quillbot. Namun kembali tools tersebut tidak menghasilkan gaya penulisan yang begitu-begitu saja hingga tidak membantu menghindari plagiarisme.

    Bagi siswa yang menggunakan AI, dia menyebutkan akan kehilangan kesempatan berpikir lebih dalam soal penelitian mereka.

    Penggunaan AI yang baik harus dilakukan dari segala sisi. Bukan hanya pendidik yang beradaptasi dengan teknologi itu, namun siswa juga tetap harus melalui proses tanpa AI.

    “Pendidik terbaik akan beradaptasi dengan AI. Untuk beberapa hal, perubahannya akan positif. Pengajar harus menjauh dari aktivitas mekanis atau menugaskan ringkasan sederhana. Mereka akan menemukan cara mendorong siswa berpikir kritis dan belajar menulis adalah menghasilkan ide, mengungkapkan kontradiksi dan mengklarifikasi metodologi,” ungkapnya.

    “Namun pelajaran tersebut membuat siswa bersedia duduk menjalani ketidaknyamanan sementara karena ketidaktahuan,” dia menambahkan.

    (dem/dem)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Inovasi AI Bantu Bank Perluas Penyaluran Kredit, Dijamin Aman?




    Next Article



    Bos Baidu Ramal AI Bakal Lebih Pintar 10 Tahun Lagi



    High Technology Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.