Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»CEO TikTok Tantang Joe Biden, Yakin Menang Batal Ditendang
    Insight News

    CEO TikTok Tantang Joe Biden, Yakin Menang Batal Ditendang

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 April 2024Updated:25 April 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah mengesahkan undang-undang yang mengancam TikTok diblokir. Namun, CEO TikTok percaya diri bisa menang melawan Biden dan para wakil rakyat AS di Washington D.C. 

    CEO TikTok Shou Zi Chew melontarkan kepercayaan dirinya lewat video yang beredar beberapa saat setelah Biden menandatangani RUU soal TiKTok menjadi UU.

    “Tenang, kami tidak akan ke mana-mana. Fakta dan konstitusi ada di pihak kami dan kami yakin menang lagi,” katanya.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    UU yang baru disahkan Biden berisi paksaan atas pemilik TikTok, ByteDance, untuk menjual bisnis TikTok di Amerika Serikat dalam 270 hari. Jika TikTok tidak dijual, aplikasi video pendek tersebut akan diblokir di wilayah AS.

    Artinya, TikTok harus dijual pada 19 Januari 2025 atau sehari sebelum periode kepresidenan Joe Biden berakhir. Namun, tenggat tersebut bisa diperpanjang 3 bulan jika ByteDance dinilai aktif menjalankan proses divestasi.

    AS memilih presiden baru setiap 4 tahun yang selalu dilantik pada tanggal 20 Januari. Biden kini sedang berkampanye untuk mempertahankan kursi presiden melawan Donald Trump, yang dikalahkan Biden pada Pilpres AS 2020.

    “Kami tidak ingin sampai ada pemblokiran. Ini soal kepemilikan China,” kata juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre seperti dikutip oleh Reuters.

    Berdasarkan UU yang baru disahkan, toko aplikasi milik Apple dan Google harus menendang aplikasi TikTok. Perusahaan hosting website AS juga dilarang memiliki aplikasi yang dikendalikan oleh ByteDance.

    Harga jual ribuan triliun

    Harga jual TikTok diperkirakan mencapai US$ 100 miliar (Rp 1.621 triliun). Harganya cukup rendah dibandingkan dengan angka penjualan TikTok di AS. Tahun lalu, layanan tersebut menghasilkan US$ 16 miliar (Rp 259 triliun).

    Financial Times mengatakan angka pendapatan harusnya memberi nilai untuk perusahaan mencapai US$ 150 miliar (atau lebih dari Rp 2.431 triliun).

    Namun diramalkan akan ada banyak masalah yang harus dihadapi rancangan undang-undang tersebut. Salah satunya, China kemungkinan akan melawan aturan tersebut. Pemerintah Xi Jinping dipastikan akan memblokir kesepakatan apapun yang dibuat AS.

    Selain itu, Tiktok juga diramal tak bisa memenuhi tenggat waktu penjualan. “Seperti yang bisa kami katakan dalam bisnis, jumlah hambatan dalam transaksi ini sangat ekstrem,” kata mantan mitra merger dan akuisisi di firma hukum Shearman & Sterling Lee Edwards, dikutip dari Washington Post.

    “Untuk menyelesaikan kesepakatan sebesar dan kompleksitas ini hanya dalam waktu setengah tahun, termasuk meloloskan tinjauan peraturan apa pun yang mungkin diperlukan di negara-negara di seluruh dunia, akan menjadi hal yang sangat cepat dan agresif,” tambahnya.

    Namun demikian, melihat potensi dari TikTok banyak pihak yang siap untuk mengakuisisi aplikasi populer itu.

    Mantan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, mengatakan kepada CNBC Internasional pekan lalu bahwa dia sedang mengumpulkan sekelompok investor yang mau untuk membeli TikTok.

    Sementara Bobby Kotick, mantan kepala raksasa video game Activision Blizzard, dan Kevin O’Leary, investor Kanada dari acara TV “Shark Tank,” keduanya telah menyatakan minatnya pada kesepakatan TikTok. Namun mereka mungkin tidak mempunyai uang untuk melakukan pengambilalihan secara serius, dan mengumpulkan dana mereka sebagai bagian dari konsorsium investasi akan menimbulkan masalah baru lagi.

    “Dengan konsorsium, Anda tidak akan pernah tahu apakah seseorang benar-benar terlibat atau tidak sampai hal tersebut berakhir,” kata Locala. “Semakin banyak pihak yang Anda perkenalkan, semakin sulit untuk mencapai kemajuan.” terangnya.



    Innovation Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.