Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Bos Baru GoTo, Patrick Walujo Investor di Sederet Startup Ini
    Insight News

    Bos Baru GoTo, Patrick Walujo Investor di Sederet Startup Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa8 Juni 2023Updated:12 Juni 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Patrick Walujo “turun gunung” mengisi posisi Direktur Utama GoTo. Pendiri Northstar ini adalah salah satu investor pertama Gojek dan punya rekam jejak panjang sebagai investor perusahaan teknologi di Indonesia.

    Northstar, yang didirikan oleh Patrick Walujo dan Glen Sugita, punya segudang startup di beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Paling populer, perusahaan private equity (PE) adalah salah satu investor awal Gojek.

    Sebelum mendirikan Northstar, Patrick merupakan Senior Vice President di Pacific Century Ltd Tokyo dan Glenn adalah Senior Vice President di PricewaterhouseCoopers Indonesia (PWC).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Sebagai PE, Northstar menggalang dana dari investor strategis seperti Sovereign Wealth Fund (SWF) hingga investor individu dengan kekayaan fantastis (high net worth individual) untuk disalurkan ke beragam instrumen investasi termasuk akuisisi perusahaan.

    Gaya bisnis private equity sebetulnya agar berbeda dengan perusahaan modal ventura (VC), yang lebih banyak aktif berinvestasi mendukung startup.

    Jika VC mendanai perusahaan dengan prospek pertumbuhan tinggi ditukar dengan sebagian saham, PE lebih banyak mencari perusahaan untuk dikuasai untuk dijual kembali dengan valuasi lebih tinggi.

    Berikut adalah beberapa perusahaan yang menikmati dana dari Patrick Walujo dan Northstar.

    1. eFishery

    eFishery merupakan perusahaan aqua-tech yang menggunakan teknologi pada bisnis budi daya ikan dan udang di Asia Tenggara. Startup ini didirikan oleh Gibran Huzaifah pada 2013 lalu.

    Northstar bergabung bersama investor lain dalam pendanaan seri C e-Fishery. Startup tersebut mendapatkan dana US$90 juta atau sekitar Rp 1,29 triliun.

    Bulan lalu, eFishery dikabarkan sudah meraih status unicorn atau melampaui valuasi US$ 1 miliar. 

    2. SayurBox

    Sayurbox merupakan salah satu pemain e-grocery pertama di Indonesia. Pendirinya adalah Amanda Susanti yang memutuskan membuat platform sumber dan distribusi sayur serta buah langsung dari petani.

    3. Ula

    Ula adalah perusahaan di sektor e-commerce asal Indonesia yang terbilang cukup baru. Startup tersebut didirikan oleh Nipun Mehra, mantan eksekutif di India dan mantan partner Sequoia Capital India.

    Pendiri lainnya adalah Alan Wong yang sebelumnya bekerja di Amazon dan Derry Sakti yang pernah bekerja di P&G Indonesia, dan Riky Tenggara yang sebelumnya berkarir di Lazada dan aCommerce. Selain Northstar, Ula juga didukung oleh modal ventura milik pendiri Amazon, Jeff Bezos.

    4. Zenius

    Zenius merupakan perusahaan yang bergerak edu-tech. Startup itu didirikan pada 2007 oleh Sabda PS dan Medy Suharta. Platform tersebut hadir sebagai solusi pengajaran jarak jauh, termasuk saat pandemi di mana kegiatan pembelajaran dilakukan tidak lagi di sekolah.

    Belum lama ini, Zenius diketahui mengakuisisi perusahaan bimbangan belajar Primagama.

    5. Noice

    Noice didirikan oleh PT Mahaka Radio Integra Tbk. (MARI), perusahaan yang bergerak di bidang investasi, jasa konsultan, media digital, yang didirikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

    Perusahaan ini menyediakan platform untuk konten audio, terutama siniar (podcast). Tercatat sudah ada lebih dari 100 konten orisinal dan eksklusif dalam berbagai genre di Noice. Aplikasi tersebut juga sudah ada di Google Play Store dan Apple App Store.

    6. Ternak Uang

    Patrick juga merupakan investor perorangan di startup keuangan, Ternak Uang. Namun, perjalanan Ternak Uang tidak berakhir dengan baik.

    Ternak Uang mengumumkan investasi tujuh digit dalam dolar AS pada Februari 2022. Ini berasal dari Patrick Walujo, Kinesys Group, dan Alto Partners.

    Raymond Chin, CEO Ternak Uang, buka suara soal nasib perusahaannya yang gagal. Termasuk mengembalikan uang dari para investornya.

    Dalam unggahan video di akun Youtubenya, Raymond bercerita soal perjalanan Ternak Uang. Berencana untuk profit, platform social investing berharap dapat bekerja sama dengan perusahaan sekuritas.

    Namun rencana tersebut batal. Alasannya karena tech winter yang menghantam keras industri sejak beberapa waktu lalu.

    “JV [joint venture]-nya enggak jadi. Enggak nyalahin orang lain, harusnya gue lebih pakemin hitam di atas putih. Lebih set ekspektasi kalau deal bisa enggak jadi,” kata Raymond.

    Ternak Uang berusaha untuk memperbaiki keadaan. Salah satunya dengan mengembalikan mayoritas investasi yang telah diterimanya.


    Artikel Selanjutnya


    Dorong Bisnis, GoTo Tunjuk Presiden Baru di 3 Unit Bisnis

    (dem)


    Hitech for better life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.