Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Betulkah E-Commerce Masih Jadi Favorit UMKM dan Konsumen?
    Insight News

    Betulkah E-Commerce Masih Jadi Favorit UMKM dan Konsumen?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa30 Juni 2023Updated:30 Juni 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Peran e-commerce terhadap perekonomian dalam negeri sangat besar, terlebih seiring adanya perubahan perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan keseharian. Hal ini pun membuat pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kian subur, dan mulai memanfaatkan platform jual beli online sebagai mesin pendorong bisnisnya, khususnya saat pandemi covid-19.

    Namun, di tengah situasi ekonomi yang menantang dan mulai kembalinya transaksi offline di tahun 2022, pertumbuhan transaksi di platform digital seperti e-commerce sedikit menurun, jika dibandingkan pertumbuhan di 2021. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi e-commerce pada 2022 mencapai Rp 476,3 triliun atau tumbuh sekitar 18% dari 2021 yang mencapai Rp 401 triliun. Sementara pertumbuhan transaksi e-commerce di 2021 mencapai di atas 50%.

    Kendati demikian, tidak dipungkiri peran e-commerce masih sangat besar terhadap perekonomian. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan 1 2023 tumbuh sebesar 5,03% yang salah satunya ditopang oleh konsumsi rumah tangga.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Kepala LPEM FEB UI, Chaikal Nuryakin mengungkapkan pada periode 2022 banyak masyarakat yang menahan konsumsinya karena masih berlangsungnya pandemi Covid-19 serta adanya berbagai ancaman ekonomi global.

    Namun lanjutnya, platform teknologi masih banyak diandalkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

    “Tahun 2022, masyarakat secara umum masih menahan konsumsi, terlihat dari indeks pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih lebih rendah dari periode sebelum pandemi. Namun demikian, platform teknologi telah menjadi pilihan masyarakat untuk konsumsi. Sehingga, mitra ekosistem teknologi pendapatannya tetap konsisten atau meningkat,” ujar Chaikal beberapa waktu lalu.

    Hal tersebut membuktikan bahwa ekonomi digital dipercaya masih menjadi salah satu sektor yang berperan penting menjadi penggerak ekonomi di Indonesia, terutama pada layanan e-commerce. Hal ini tidak mengherankan mengingat Indonesia menjadi salah satu negara 10 besar dunia dengan pertumbuhan e-commerce paling pesat.

    Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pernah mengungkap bahwa transaksi e-commerce pada 2021 lalu nilainya mencapai US$53 miliar. Jumlah ini diprediksi akan meningkat sampai US$104 miliar pada 2025, dengan level pertumbuhan 18%.

    Tingginya nilai transaksi ini jelas sangat menjanjikan untuk kelangsungan hidup dan bisnis para merchant di platform-platform e-commerce, misalnya saja para pelaku UMKM di e-commerce Tokopedia.

    Data riset LPEM FEB UI menunjukan, pendapatan penjual Tokopedia secara keseluruhan tetap konsisten di tahun 2022 dengan rata-rata sekitar Rp 10 juta per bulan. Jika dirinci lebih lanjut, untuk penjual Tokopedia lama (penjual yang sudah bergabung sebelum integrasi GoTo) membukukan pendapatan rata-rata sebesar Rp 10.7 juta per bulan.

    Sementara penjual baru (penjual yang sudah bergabung sesudah integrasi GoTo) meraih pendapatan rata-rata sebesar Rp 7.8 per bulan di tahun 2022. Data tersebut didapatkan berdasarkan riset terhadap 1.132 pedagang di Tokopedia.

    Hal tersebut dinilai baik, melihat berakhirnya era pandemi membuat masyarakat perlahan berbelanja secara langsung di toko (offline), tanpa menghilangkan kebiasaan mereka berbelanja online yang dinilai lebih mudah.

    Lebih lanjut, riset tersebut juga menunjukkan bahwa Tokopedia secara konsisten membantu UMKM terhadap akses keuangan melalui pinjaman produktif. Adapun persentase kuantitas jumlah pinjaman yang diterima oleh penjual Tokopedia meningkat di tahun 2022 mencapai 83,2% dengan jenis pinjaman yang paling banyak digunakan oleh Tokopedia adalah pinjaman produktif secara online yakni sebesar 10,83% dari total responden.

    Temuan menarik lainnya adalah terkait ekosistem GoTo yang inklusif dan mudah digunakan (rendah hambatan) sehingga berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Menurut Chaikal, sebuah platform yang inklusif dan rendah hambatan membuat peluang lebih setara bagi masyarakat dari berbagai kelompok, mendorong interaksi yang lebih kaya, keterwakilan yang lebih adil, mendorong adanya solusi berkelanjutan, serta pada akhirnya pertumbuhan ekonomi.

    Melalui berbagai macam program yang dilakukan saat atau pun pasca pandemi, platform-platform e-commerce seperti Tokopedia secara berkelanjutan terus membantu pelaku usaha yang sebagian besarnya adalah UMKM untuk terus mendapatkan pendapatannya secara konsisten.



    Artikel Selanjutnya


    Dimodali Investor Gojek, Startup Ini Mau Caplok Brand Asli RI

    (dpu/dpu)


    Hitech for better life Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.