Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Bank Dunia Buka-bukaan Nasib Ojol CS, Ini Kata Ekonom
    Insight News

    Bank Dunia Buka-bukaan Nasib Ojol CS, Ini Kata Ekonom

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa11 September 2023Updated:11 September 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Bank Dunia mengungkap kondisi driver ojek online (ojol) dan pekerja online lain kesulitan membayar utang, serta tak punya dana darurat.

    Dalam laporan Bank Dunia berjudul Working Without Borders: The Promise and Peril of Online Gig Work, Bank Dunia memperkirakan 6-7 persen pekerja informal di Indonesia adalah pekerja lepas online seperti ojol. Dari seluruh pekerja yang bergantung ke platform online tersebut, 63 persen di antaranya bekerja di kota besar.

    Mayoritas jenis pekerjaan mereka adalah pengiriman barang (44%), pengantaran orang seperti ojol dan taksi online (35%), tugas sehari-hari seperti belanja untuk orang lain (28%), dan logistik (19%).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Melihat fenomena ini, Ekonomi Indef Nailul Huda mengungkap data dari FINDEX, yaitu hanya 32,75 persen pekerja di Indonesia yang mampu menyediakan dana cadangan untuk kebutuhan 7 hari ke depan.

    Dibandingkan dengan negara lainnya, persentase tersebut relatif kecil. Rata-rata di negara lain 40 persen pekerja mampu menyediakan dana untuk 7 hari ke depan. Namun ini keadaan pekerja secara umum, termasuk di sektor formal yang bergaji tetap.

    Dari pekerja di sektor informal, keadaannya jauh lebih parah termasuk para driver yang tidak punya penghasilan layak dan tetap. Mereka tidak memiliki kemampuan dan dana cadangan yang cukup.

    “Makanya tidak jarang hidup pekerja informal sering berhutang kanan dan kiri,” kata Nailul kepada CNBC Indonesia, Senin (11/9/2023).

    Mereka juga kesulitan berutang ke instansi pembiayaan formal seperti perbankan. Tak heran banyak dari mereka yang lari ke individu seperti keluarga, rentenir, gadai, dan pinjaman online untuk meminjam uang.

    Untuk memutus hal tersebut dibutuhkan sistem otomatis yang memberikan layanan perlindungan sosial dari aplikator.

    “Saya sering menyebutkan harus ada sistem yang win-win antara driver, platform, dan konsumen untuk memberikan perlindungan perjalanan,” tegasnya.

    Serta, pentingnya tambahan biaya untuk asuransi perjalanan menggunakan jasa ride-hailing atau kurir.

    Kemudian, penyedia platform juga bisa memberikan keringanan pembayaran BPJS menjadi cicilan bagi mitra driver sehingga tidak terlalu memberatkan dan bisa memberikan perlindungan sosial.



    Artikel Selanjutnya


    Krisis Ojol Hantui Gojek-Grab, Para Driver Ungkap Faktanya

    (dem)


    High Technology Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.