Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Bank Diramal Kiamat Gara-gara Fintech, BRI Bilang Begini
    Insight News

    Bank Diramal Kiamat Gara-gara Fintech, BRI Bilang Begini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 September 2024Updated:29 September 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Industri jasa keuangan seperti perbankan terlihat mau ‘kiamat’ satu dekade lalu gara-gara disrupsi teknologi finansial atau fintech.

    Saat itu, tepatnya 2014, terlihat tidak ada masa depan bagi bisnis jasa keuangan karena semua digantikan teknologi.

    Era itu diistilahkan un-bundling, di mana fintech menguasai produk keuangan untuk kartu kredit, pembukaan tabungan, e-wallet, dan lain sebagainya.

    Maju ke 10 tahun kemudian, ternyata tidak semua perusahaan fintech mampu bertahan dan menghasilkan profit.

    Division Head Digital Inovation BRI Kaspar Situmorang menjelaskan bahwa terbukti jika suatu perusahaan hanya bermain di bisnis single vertival saja dan meng-unbundling produk-produk dari pemain konvensional akan sulit untuk cuan.

    “Kalau misalnya kita punya cuma wallet saja, tidak cukup untuk menutup biaya operasional kita. Kalau kita hanya punya satu single vertical bisnis saja, tidak cukup untuk menutupi biaya kita,” ujar Kaspar dalam Forum Digital BUMN Summi 2024, Rabu (25/9/2024).

    Maka akhirnya yang terjadi adalah pemain-pemain fintech membangun ulang bisnis selayaknya yang sudah dilakukan oleh jasa keuangan konvensional.

    AI Ubah Bisnis Perbankan

    Bisnis perbankan konvensional pada umumnya adalah tentang bundling, seperti buka tabungan, harus ada juga untuk pinjaman supaya bisa menutup biaya operasional.

    Namun saat ini, hampir seluruh industri jasa keuangan melakukan great re-bundling, yang sama sekali berbeda selama 50 tahun terakhir.

    “Kalau kita lihat re-bundling yang kali ini, yang paling beda. re- bundlingnya tadi itu karena sudah menggunakan open AI tadi misalnya. Open API tadi misalnya,” jelas Kaspar.

    “Kali ini re-bundlingnya tadi bagaimana cara kita menjual ke customer tadi, lebih relate, lebih relevan begitu. Harus menggunakan more AI kita bilang,” imbuhnya.

    Agar AI bisa dipakai dimana-mana, jasa keuangan harus memperbanyak API-nya. Jadi ‘pemenang’nya adalah mereka yang paling bisa mengelola AI untuk pengalaman konsumen dan punya banyak API.

    “Jadi AI, open API apapun itu, it’s all about bagaimana kita kasih customer service yang excellent,” kata dia.

    “Yang tadinya di industri jasa keuangan, itu kita sangat mesin sentrik gitu. Nah, sekarang kita pindah bagaimana caranya supaya lebih human centric gitu.” imbuhnya.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Adopsi Layanan Keuangan Berbasis AI, Bisnis Bisa ‘Naik Kelas’?





    Next Article



    Menkominfo Apresiasi Peran Ajaib Dalam Dunia Keuangan RI



    High Technology Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.