Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Asing Pilih Malaysia daripada RI, Menkominfo Blak-blakan Penyebabnya
    Insight News

    Asing Pilih Malaysia daripada RI, Menkominfo Blak-blakan Penyebabnya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa9 Oktober 2024Updated:9 Oktober 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Indonesia belum jadi pilihan utama perusahaan asing untuk berinvestasi di sektor data center. Banyak yang lebih memilih membangun data center di Malaysia, lebih spesifik di Johor.

    Menurut estimasi Maybank, investasi data center di Johor yang bisa digunakan untuk AI dan komputasi cloud diestimasikan mencapai US$ 3,8 miliar pada tahun ini.

    Menteri Kominfo Budi Arie Setiadi menjelaskan Malaysia memiliki tiga hal yang ditawarkan pada perusahaan asing untuk mau berinvestasi. Mulai dari listrik, pajak, dan kepastian hukum.

    “Listrik mereka 8 sen per kwh, mereka bebas pajak untuk barang modal. Lalu yang ketiga adalah kepastian hukum dalam investasi,” jelasnya ditemui usai Grand Opening JST1 Pusat Data Tier IV Bersama Digital Data Centres (BDDC), di Jakarta, Rabu (9/10/2024).

    Dia menekankan Indonesia perlu berusaha untuk mempermudah iklim investasi bagi asing. Ia menekankan soal pentingnya reputasi. Jangan sampai terkesan Indonesia menyulitkan mereka yang mau berinvestasi.

    Salah satunya, Budi Arie berharap harga listrik khusus data center bisa lebih murah. Tidak semahal yang dibebankan sekarang kepada para pemain.

    “Jadi jangan sampai ada kesan, kok susah sekali ya mau investasi di Indonesia. Sehingga hambatan dalam perlambatan investasi ini harus dihindari,” ungkapnya.

    Pasar Indonesia, Budi meyakini sangat besar. Sebab jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta jiwa dan sumber daya yang berlimpah termasuk energi terbarukan.

    Presiden Komisaris BDDC, Setyanto Hantoro menjelaskan tarif listrik untuk industri termasuk data center 11-12 sen. Sementara untuk masyarakat berkisar 7-8 sen, sama seperti yang ditawarkan Malaysia kepada pemain data center.

    Insentif dibutuhkan dalam tiga aspek, yakni harga listrik, pajak, dan kepastian hukum. Misalnya pajak impor diharapkan bisa lebih mudah atau direndahkan.

    Hal itu dibutuhkan karena investasi data center menguras kantong. Setidaknya butuh US$10-11 juta dolar per 1 megawatt.

    “Bayangkan Indonesia saat ini mungkin, hitung-hitungan kasar saya ya, butuh sekitar 600-700 megawatt. Kali 11 juta dolar sudah berapa? Maka investasi besar butuh kepastian hukum,” ujarnya.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video:Saat Dunia Bergejolak, Ini Startup Yang “Menarik” Modal Ventura





    Next Article



    Asing Ramai Serbu Malaysia, Luhut Ungkap Posisi Indonesia



    Mind your business Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.