Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Aplikasi Pengganti WhatsApp Bikin Eropa Pecah, Pejabat Ngamuk
    Insight News

    Aplikasi Pengganti WhatsApp Bikin Eropa Pecah, Pejabat Ngamuk

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa29 Mei 2024Updated:29 Mei 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Telegram tengah disorot pemerintah Eropa. Aplikasi pesaing WhatsApp tersebut dikatakan menjadi sarang penyebaran disinformasi yang menyebabkan perpecahan. 

    Salah satu contohnya, Telegram digunakan oleh akun pro-Kremlin untuk menyebarkan disinformasi agar melemahkan dukungan negara-negara Eropa pada Ukraina. Bahkan pihak intelijen Rusia juga menggunakannya dalam merekrut orang untuk melakukan sabotase pada seluruh ibu kota Eropa.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Mantan Direktur Pusat Penanggulangan Ancaman Hibrida Slovakia, Daniel Milo menyoroti alasan Telegram disukai orang-orang pro-Rusia. Platform itu disebut memiliki aturan yang sangat longgar.

    “Telegram populer di kalangan berbagai aktor pro-Rusia dan individu yang menyebarkan disinformasi karena hampir tidak ada moderasi konten,” ucapnya dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (29/5/2024).

    Bahkan pejabat Eropa terang-terangan mengatakan tak begitu menyukai Telegram. Sebab penyebaran disinformasi yang begitu masif dan dalam tahap tidak terkendali.

    “Disinformasi menyebar dengan terbuka dan tidak terkendali di Telegram,” ucap Perdana Menteri Estonia, Kaja Kallas.

    Pemerintah bukan tanpa upaya untuk menghentikan penyebaran disinformasi. Namun Telegram kerap tak menjawab permintaan menghapus konten yang mengganggu.

    “Kami tahu negara-negara anggota lain punya masalah serupa,” ujarnya.

    Rusia juga tak selalu menyukai Telegram. Pengadilan setempat pernah memerintahkan memblokir aplikasi tersebut pada tahun 2018 karena menolak menyerahkan kunci enkripsinya.

    Pavel Durov, pendiri Telegram yang asal Rusia juga harus meninggalkan negara itu pada 2014. Dia kehilangan kendali pada perusahaan setelah menolak menyerahkan data pengunjuk rasa Ukraina untuk badan keamanan.

    Aturan Uni Eropa untuk menangani konten ilegal dan berbahaya juga tak bisa diterapkan bagi Telegram. Wilayah itu hanya mengatur bagi platform dengan 45 juta pengguna aktif di Eropa sedangkan Telegram hanya 41 juta pengguna.




    Mind your business Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.