Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Anak Muda Bergaji Tinggi Cenderung Pakai Paylater, Kenapa?
    Inspiring You

    Anak Muda Bergaji Tinggi Cenderung Pakai Paylater, Kenapa?

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman21 April 2024Updated:21 April 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Paylater adalah metode pembayaran yang memungkinan konsumen untuk membeli barang saat ini dan dibayar pada lain hari. Mudahnya, paylater adalah layanan yang mengizinkan seseorang menunda pembayaran.

    Melansir dari Channel News Asia (CNA), paylater ternyata populer di kalangan generasi muda Singapura, termasuk orang yang bergaji hingga 10 ribu SGD atau sekitar Rp119,56 juta (asumsi kurs Rp11.956/SGD).

    Sebuah survei gabungan yang dilakukan oleh Institute of Policy Studies (IPS) dan CNA menemukan bahwa hampir 7 dari 10 anak muda Singapura telah menggunakan paylater. Menariknya, mereka adalah orang yang berpenghasilan tinggi.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam survei tersebut, masyarakat berusia 21 hingga 39 tahun diteliti untuk memahami sikap dan perilaku keuangan di kalangan anak muda Singapura. Selain itu, sikap para anak muda terkait utang, menabung, mengatasi biaya hidup, dan perencanaan masa depan juga ditelusuri.

    Lantas, apa alasan para anak muda Singapura cenderung menggunakan paylater?

    Berdasarkan hasil survei, sekitar dua pertiga responden alias 65,4 persen anak muda pernah menggunakan paylater. Sementara, anak muda yang berpendapatan tinggi atau memiliki kartu kredit pernah menggunakan paylater setidaknya satu layanan.

    Secara rinci, responden berusia 30 hingga 34 tahun adalah kelompok yang paling mungkin menggunakan paylater, yaitu sebesar 72,3 persen. Sementara, 53,2 persen dari responden berusia 21 hingga 24 tahun yang telah menggunakan setidaknya satu layanan paylater.

    Menurut hasil survei, delapan dari 10 responden yang berpenghasilan 6 ribu SGD dan 7 ribu SGD atau sekitar Rp71,7 juta dan Rp83,6 juta mengaku bahwa mereka menggunakan setidaknya satu layanan paylater. Salah satu alasannya adalah demi menghemat uang saat ini.




    Foto: dok Layanan Paylater
    Ilustrasi Pengguna Paylater

    Salah satu responden, Leon Tan (32) yang bergaji 10 ribu SGD mengaku bahwa ia menggunakan SPayLater, yakni layanan paylater yang ditawarkan Shopee, serta layanan Atome untuk membayar dengan cara mencicil.

    Tan menyebut, ia menggunakan paylater hanya jika metode itu tidak menawarkan biaya bunga. Sebab, Tan telah menghabiskan banyak uang di tengah meningkatnya gaya hidup.

    “Satu dolar saat ini bernilai lebih dari satu dolar di masa depan. Jadi, menurut saya ada baiknya menggunakan layanan paylater untuk menghemat biaya sekarang,” kata Tan, dikutip Jumat (19/4/2024).

    Peneliti IPS, Dr. Teo Kay Key menjelaskan bahwa masyarakat berpenghasilan tinggi akan memiliki lebih banyak likuiditas pada rekening bank mereka. Biasanya, itu digunakan untuk berbagai pengeluaran.

    Hal ini justru berbanding balik dengan masyarakat berpenghasilan rendah yang secara umum membelanjakan uangnya lebih banyak.

    “Bagi mereka yang berpenghasilan tinggi, mereka mungkin tidak melihat utang sebagai sesuatu yang harus dihindari,” kata Dr. Key.

    “Dengan aliran pendapatan dan tabungan yang stabil, melakukan pembelian menggunakan skema ini kemungkinan besar tidak menimbulkan risiko finansial tambahan dan dapat dilihat sebagai hal yang cerdas untuk dilakukan,” lanjutnya

    Sementara itu, sebanyak sembilan dari 10 responden mengaku terdampak kenaikan biaya hidup di Singapura. Masyarakat berusia 21 hingga 24 tahun dan orang yang berpenghasilan rendah disebut merasakan hal yang sama.

    Sebagian besar responden atau 92,6 persen merasa terkena dampak pribadi dari kenaikan biaya hidup. Sementara itu, mereka yang berusia 21 hingga 24 tahun atau 70,7 persen umumnya merasa lebih terkena dampaknya dibandingkan responden yang lebih tua.

    Hal ini kemungkinan didasari oleh responden lebih muda yang belum mulai bekerja penuh waktu saat mereka masih bersekolah. Jika memiliki penghasilan, mereka tidak mempunyai pendapatan yang lebih tinggi dan memiliki tabungan yang lebih sedikit.

    (rns/rns)


    Techno update True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.