Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Ahli Sebut Makan Serangga Bisa Selamatkan Bumi, Gini Caranya
    Inspiring You

    Ahli Sebut Makan Serangga Bisa Selamatkan Bumi, Gini Caranya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman11 September 2024Updated:11 September 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    JakartaDexpert.co.id – Badan Pangan Singapura baru saja menyetujui 16 spesies serangga yang layak dikonsumsi manusia, yakni beberapa spesies kumbang, belalang, belalang sembah, hingga ulat Hong Kong.

    Melansir dari Al Jazeera, Badan Pangan Singapura menegaskan bahwa penyetujuan tersebut bukan berarti serangga yang dapat dikonsumsi berasal dari alam liar, tetapi harus dari tempat budidaya yang diatur oleh otoritas yang berwenang.

    Meskipun entomofagi alias praktik memakan serangga di banyak bagian dunia masih merupakan esoterisme gastronomi, Singapura adalah salah satu dari beberapa negara yang telah mulai menerapkan hal tersebut.

    Sebagaimana diketahui, beberapa negara memang menyajikan serangga sebagai makanan yang populer. Namun, apakah manusia perlu mengubah pola makan dengan memasukkan serangga sebagai menu sehari-hari?

    Ada beberapa alasan yang dikemukakan untuk “sah-sah saja” mengonsumsi serangga sebagai menu makanan, yakni.

    1. Serangga lebih berkelanjutan secara lingkungan dan lebih murah untuk diproduksi daripada daging sapi

    2. Kandungan protein dan nutrisi lainnya pada serangga lebih tinggi daripada daging

    3. Serangga dapat dibudidayakan tanpa hormon khusus

    4. Serangga berpotensi menjadi solusi bagi negara-negara yang tidak aman pangan dan ditangkap atau dipanen secara berlebihan

    Studi sebut makan serangga bisa selamatkan bumi

    Selain alasan-alasan di atas, perubahan iklim yang cukup ekstrem juga mampu mengubah hubungan manusia dengan makanan. Dalam hal itu, banyak manusia percaya bahwa serangga adalah alternatif yang layak dan berkelanjutan bagi lingkungan untuk menggantikan daging.

    Terlebih, sejumlah studi menunjukkan bahwa jejak karbon yang dihasilkan peternakan cukup tinggi, yakni 14,5 hingga 19,6 persen dari total emisi gas rumah kaca global.

    Pada 2022 lalu, World Economic Forum menerbitkan laporan yang memberikan insentif untuk memakan serangga. Laporan itu turut menyinggung soal perubahan iklim dan kandungan protein serangga yang tinggi sebagai alasan memakan serangga.

    Namun pada 2013 lalu, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sebenarnya telah mengusulkan entomofagi sebagai solusi untuk mengatasi kerawanan pangan. Pertanyaannya, apakah benar mengonsumsi serangga sesehat itu?

    Berbagai jenis serangga mengandung jumlah nutrisi yang berbeda. Namun, sebagian besar cenderung banyak mengandung protein, zat besi, dan kalsium.

    Sebuah situs web berbasis di Amerika Serikat (AS) yang menjual bubuk jangkrik, MightyCricket mengungkapkan bahwa jangkrik 10 kali lipat lebih banyak mengandung vitamin B12 daripada daging sapi.

    Sementara itu, bisnis nutrisi olahraga di Kanada, Naak mengatakan bahwa 100 gram daging sapi cincang hanya mengandung sekitar 20 gram protein. Sedangkan, 100 gram jangkrik mengandung 60 gram protein.

    Jika memang benar jangkrik lebih sehat, lantas apakah mengonsumsi serangga baik untuk keberlanjutan lingkungan?

    Salah satu alasan utama meningkatnya anjuran dan dukungan untuk memakan serangga adalah jejak lingkungan yang sangat rendah dari serangga. Berikut pembahasannya.

    Menurut laporan FAO, produksi daging dan produk susu menyumbang 14,5 persen emisi gas rumah kaca global. Sedangkan, MightyCricket mengatakan jangkrik menggunakan 50 hingga 90 persen lebih sedikit lahan per kilogram protein daripada ternak konvensional.

    Berdasarkan laporan FAO pada 2013, memproduksi 100 gram daging sapi menghasilkan 750 gram emisi gas rumah kaca. Sementara untuk menghasilkan 100 gram jangkrik, jumlah emisi diperkirakan 100 kali lebih sedikit.

    Pada 2013 lalu, data FAO memperkirakan sekitar dua miliar orang di dunia telah mengonsumsi serangga. Di Indonesia, setidaknya ada beberapa makanan serangga yang populer, seperti belalang goreng, jangkrik goreng atau tumis, ulat sagu, rempeyek laron, botok tawon, ungker alias kepompong dari daun jati, hingga getok alias anak capung goreng.

    Usai mengetahui manfaat bagi lingkungan serta kandungan nutrisinya, apakah Anda berminat untuk mengonsumsi serangga?

    (rns/rns)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Roberto Fiorini, Chef Pribadi Paus Fransiskus Saat di Indonesia





    Next Article



    Singapura Sahkan Aturan Baru, Karyawan Boleh Ajukan WFH & WFA



    Gaya Hidup Terkini Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.