Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Telegram Berubah Total Usai CEO Ditangkap, Begini Nasibnya Sekarang
    Insight News

    Telegram Berubah Total Usai CEO Ditangkap, Begini Nasibnya Sekarang

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa16 Desember 2024Updated:16 Desember 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Aplikasi pesan singkat Telegram dirombak habis-habisan setelah CEO Pavel Durov ditangkap di Prancis pada Agustus lalu. Saat ini Durov memang sudah bebas bersyarat dengan membayar tebusan senilai 5 juta euro (Rp 84 miliar).

    Kendati demikian, layanan buatannya yang merupakan pesaing berat WhatsApp kian mendapat tekanan. Durov yang sebelumnya blak-blakan tak mau diatur pemerintah, kini patuh melakukan moderasi konten negatif.

    Dikutip dari TechCrunch, Senin (16/12/2024), Telegram sudah menghapus 15,5 juta grup dan channel negatif sepanjang 2024. Pemblokiran tersebut dilakukan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).

    Salah satu yang dititikberatkan pemerintah dalam pembebasan Durov adalah membersihkan Telegram dari konten-konten berbahaya dan provokatif. Hal itu pula yang menjadi alasan pemerintah menangkap Durov di awal.

    Pada September lalu atau setelah dibebaskan, Durov memang membuat pengumuman besar bahwa Telegram akan menyapu bersi konten ilegal dari platformnya. Janji tersebut sepertinya benar ditepati.

    Adapun grup dan channel yang dihapus Telegram antara lain terkait penipuan dan terorisme. Telegram baru-baru ini juga meluncurkan laman khusus moderasi untuk menjadi wadah koordinasi upaya moderasi ke publik.

    Pantauan CNBC Indonesia dalam laman moderasi Telegram, penghapusan konten paling banyak dilakukan pada 22 September 2024, yakni lebih dari 203.000 konten.

    Konten yang paling banyak diblokir terkait kekerasan seksual terhadap anak, yakni 707.000-an konten. Selanjutnya terkait propaganda terorisme sebanyak 130.000-an konten.

    Jika pengguna menemukan konten negatif di Telegram, bisa melaporkannya dengan menekan konten, lalu memilih opsi ‘Report’. Lalu, masukkan alasan kenapa konten tersebut berbahaya atau negatif.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Salip iPhone 16, Samsung Galaxy S25 Rebut “Tiket Masuk” RI




    Next Article



    Aplikasi Pengganti WhatsApp Makin Populer, Ini Alasan Ramai Pindah



    Techno update Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.