Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ekosistem Digital Penopang Bisnis RI Tertinggal Jauh dari Malaysia
    Insight News

    Ekosistem Digital Penopang Bisnis RI Tertinggal Jauh dari Malaysia

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa29 Juli 2024Updated:29 Juli 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Sistem digital pendukung wirausaha atau berbisnis di Indonesia masih jauh tertinggal dari Malaysia, apalagi Singapura dan Korea Selatan.

    Hal ini terungkap dari data Global Index of Digital Entrepreneurship Systems (GIDES) Asian Development Bank atau ADB yang dirilis pada April 2024 lalu.

    Dalam data itu, skor GIDES Indonesia hanya senilai 20,4 dari 100. Menempati peringkat 11 dari total 21 negara di Asia. Jauh tertinggal dari Singapura di posisi pertama dengan skor 81,3, Korea Selatan 54,1 di posisi kedua, dan Malaysia dengan skor 43,1 di di posisi ketiga.

    “Singapura memiliki skor tertinggi di dunia. Korea melakukannya dengan sangat baik. Malaysia dan Tiongkok juga melakukannya dengan cukup baik,” kata Chief Economist ADB Albert Park dalam acara 18th Bulletin of Monetary Economy & Banking International Conference (BMEB) and Call for Papers 2024, Senin (29/7/2024).

    Penilaian terhadap indeks sistem digital pendukung kewirausahaan itu didasari ADB dari delapan aspek utama, yang terbagi ke dalam dua sisi, yang kondisi kerangka umum dan kondisi kerangka sistemik.

    Kondisi kerangka umum itu terdiri dari Culture and informal institutions; Formal institutions, regulation, taxation; Market conditions; dan Physical infrastructure.

    Untuk kondisi kerangka spesifik terdiri dari Human capital; Knowledge creation and dissemination; Finance; serta Networking and support.

    Untuk culture and informal institutions ADB memberi nilai merah ke Indonesia dengan skor hanya 10,4 jauh tertinggal dari negara seperti Malaysia yang mendapat skor 46,7. Lalu, indikator market condition juga hanya senilai 14,7 sedangkan Malaysia 43,4.

    Human capital yang menjadi salah satu nilai terbesar dengan skor 29 pun masih jauh tertinggal dari Malaysia yang mencapai 58,5. Demikian juga dengan networking and support 30,4 sedangkan Malaysia sudah mencapai 48,9.

    “Jadi, ada hal penting utama yang harus dilakukan untuk menjadikan digitalisasi inklusif. Anda harus menyelesaikan kondisi dasar ini agar orang-orang dapat mengakses layanan digital ini,” ucap Albert Park.

    (haa/haa)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: APJATEL Ungkap Tantangan Pengembangan Infrastruktur Digital





    Next Article



    Kemajuan Teknologi Digital Dorong Ekosistem Ekonomi Syariah



    Mind your business Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.