Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Kejayaan TikTok Mulai Runtuh, Ini Penyebabnya
    Insight News

    Kejayaan TikTok Mulai Runtuh, Ini Penyebabnya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa4 Maret 2024Updated:5 Maret 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – TikTok disorot dunia karena popularitasnya yang melonjak sejak pandemi menghantam dunia. Platform asal China tersebut mampu menggaet para Gen Z dan menjadi salah satu media sosial dengan basis pengguna terbesar saat ini.

    Namun, popularitas TikTok diramal akan segera memasuki era stagnan, bahkan merosot. Salah satunya dipicu oleh hilangnya kontrak TikTok dengan Universal Music Group, yang membuat lagu-lagu Taylor Swift, J Balvin, dkk, dihapus dari platform tersebut.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Tanda berikutnya, data terbaru dari Sensor Tower pada awal 2024 menunjukkan pertumbuhan TikTok mulai menurun sepanjang 2023.

    Platform dengan pengguna aktif bulanan (MUA) terbanyak sedunia sepanjang tahun lalu dipegang oleh Facebook, lalu diikuti WhatsApp, Instagram, Messenger. Selanjutnya, TikTok berada di peringkat ke-5.

    Pertumbuhan pengguna TikTok sebenarnya masih positif 3% secara rata-rata tiap kuartal sepanjang tahun lalu. Namun, peningkatan itu menurun dari yang sebelumnya 12% secara rata-rata tiap kuartal pada 2022.

    Laporan Slate mengatakan perlambatan pertumbuhan TikTok salah satunya disebabkan sodoran iklan yang membludak di platform tersebut untuk membujuk penggunanya berbelanja di fitur e-commerce TikTok Shop.

    Selain itu, banyaknya disinformasi yang tersebar di TikTok dan konten-konten AI yang menjadi spam di platform tersebut juga dikatakan menjadi pemicu.

    Gesekan juga terjadi di internal perusahaan. TikTok dan induknya ByteDance terlibat kasus dugaan diskriminasi gender. Selain itu, PHK juga menyebabkan para pekerja menjadi waswas.

    Isu diskriminasi gender dikatakan membuat pertumbuhan dan valuasi TikTok secara umum merosot di akhir 2023.

    Slate mencatat bahwa TikTok tak akan lenyap atau berdarah-darah. Namun, platform ini akan menghadapi tekanan dalam upayanya mengganti peran dari media sosial menjadi platform e-commerce.

    Pendapatan TikTok ke depan digadang-gadang akan lebih berasal dari belanja konsumen di dalam aplikasi, ketimbang dari pendapatan iklan.

    Belum lagi, kondisi geopolitik yang memanas antara AS dan China turut menyudutkan posisi TikTok. AS telah melarang penggunaan TikTok di lingkungan pemerintaan, meski secara mengejutkan Presiden Joe Biden terang-terangan membuat akun TikTok untuk kampanye.




    Insight for you Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.