Jakarta – Penurunan tanah (land subsidence) akibat tekanan lingkungan dari pembangunan perkotaan terjadi di beberapa kota besar di Asia, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan isu soal Jakarta yang akan tenggelam kerap berhembus kencang. Di Indonesia, salah satu yang mempercepat penurunan tanah adalah penggunaan air yang tidak tepat. Badan Geologi Departemen Energi Sumber Daya Manusia menunjukkan setiap tahun 23 wilayah di pulau Jawa mengalami penurunan antara 5-9 cm.
Ketua Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) Monica Oudang menyebutkan kalau penurunan tanah dapat mengakibatkan meningkatnya risiko banjir, retakan, serta kerusakan bangunan atau infrastruktur. Menurut Monica, air sebagai penopang kehidupan memiliki dampak ke berbagai aspek kehidupan manusia. Oleh karenanya, air harus dapat diakses oleh setiap individu untuk memperbaiki taraf hidup dan pada akhirnya membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.
“Dengan prinsip gotong royong yang selalu menjadi DNA kami, YABB berkomitmen untuk mendorong perubahan yang mengakar dan berkesinambungan. Melalui program CCE, kami berharap perubahan pada sistem dengan memanfaatkan teknologi sehingga kami dapat mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan air yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat,” jelas Monica dalam siaran pers, Rabu (10/11/2021).
YABB sendiri, organisasi nirlaba yang didirikan oleh Gojek meluncurkan mengadakan Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE), sebuah program yang bertujuan untuk mengajak dan mendorong mengumpulkan dan mengkatalisasi jaringan agen perubahan (changemakers) dari perusahaan rintisan (startup) dan organisasi masyarakat sipil (CSO) untuk mengatasi masalah ketidaksetaraan air di seluruh Indonesia.
Peluncuran ini dilakukan pada Jumat 5 November dan dihadiri oleh: Tri Dewi Virgiyanti S.T, MEM, Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS dan Sophie Kemkhadze, UNDP Indonesia Deputy Resident Representative.
CCE akan memiliki beberapa fase yaitu Catalyst Changemakers Lab (CCL), Pilot Projects, dan Platform Air Internet of Things (IoT) yang terintegrasi secara hyperlocal, yang bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mencapai target nasionalnya di bidang akses air.
Program CCE akan dimulai dengan Catalyst Changemakers Lab (CCL) sebagai fase pertama yang akan bekerja sama dengan Social Innovation Accelerator Program (SIAP). Pada tahap kedua akan dilaksanakan Pilot Project untuk memastikan solusi dapat digunakan dengan baik, dan terakhir adalah pemanfaatan teknologi sehingga solusi yang diberikan dapat diterapkan di berbagai tempat.
CCL akan dimulai dengan kampanye aktivasi yang difokuskan untuk menyatukan para pemangku kepentingan dalam untuk membahas isu air di Semarang, Makassar, dan Bandar Lampung. Selanjutnya, peluncuran nasional akan berlangsung dengan mengundang pemerintah, institusi akademik, startup, CSO, komunitas, dan pakar di industri air. Pendaftaran untuk aplikasi CCL dibuka pada 25 Oktober 2021.
[Dexpert.co.id]
(rah/rah)
