Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Obat Ini Bunuh 17.000 Orang Selama Pandemi Covid-19
    Insight News

    Obat Ini Bunuh 17.000 Orang Selama Pandemi Covid-19

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa5 Januari 2024Updated:5 Januari 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Sekitar 17.000 orang diduga tewas akibat mengonsumsi obat hydroxycholoroquine selama pandemi Covid-19 berlangsung. Obat anti-malaria ini sempat dipromosikan untuk menyembuhkan Covid, termasuk oleh Donald Trump, yang saat itu merupakan Presiden Amerika Serikat.

    Peneliti asal Prancis mempublikasikan hasil penelitian tentang dampak hydroxycholoroquine dalam jurnal Biomedicine & Pharmacotherapy.

    Menurut mereka, hydroxycholoroquine diresepkan ke beberapa pasien yang dirawat selama gelombang pertama pandemi Covid “meskipun tidak ada bukti klinis khasiatnya.”


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Kini, peneliti memperkirakan sekitar 16.990 orang di enam negara yaitu Prancis, Belgia, Italia, Spanyol, Turki, dan Amerika Serikat, tewas karena obat tersebut.

    Angka tersebut berasal dari studi yang dipublikasikan di jurnal sains Nature pada 2021 yang melaporkan pemberian resep hydroxycholoroquine  menyebabkan kenaikan angka kematian sebesar 11 persen dalam kasus Covid-19.

    Obat tersebut ditemukan menimbulkan efek negatif pada penderita Covid-19 termasuk gangguan detak jantung.

    Peneliti dari universitas di Lyon, Prancis dan Quebec, Kanada, menggunakan angka tersebut untuk melakukan analisis atas data Covid di enam negara di atas. Tujuannya adalah mengetahui sebanyak apa paparan hydroxychloroquine di pasien Covid dan kenaikan risiko kematian terkait obat tersebut.

    Faktanya, angka tersebut bisa lebih tinggi karena angka 16.990 hanya berasal dari periode Maret hingga Juli 2020 di enam negara. Hydroxychloroquine diketahui diresepkan di lebih banyak negara dalam jangka waktu yang lebih panjang.

    Hydroxychloroquine populer pada awal pandemi Covid setelah diperkenalkan oleh ahli virus atas Prancis dan kepala RS Méditerranée Infection Foundation, Didier Raoult. Raoult harus melepaskan posisinya karena kontroversi obat tersebut.

    Donald Trump, saat menjadi Presiden Amerika Serikat, juga mempromosikan Hydroxychloroquine sebagai “obat ajaib.” “Anda rugi apa, telan saja,” kata Trump menjawab pertanyaan soal risiko Hydroxychloroquine.

    (dem/dem)


    Techno update Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.