Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Nasib Startup RI Suram, Begini Penjelasan Ekonom
    Insight News

    Nasib Startup RI Suram, Begini Penjelasan Ekonom

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa10 November 2023Updated:10 November 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Investasi di sektor digital menurun tajam sejak 2022 lalu. Menurut catatan Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, ada Rp 140 triliun dana investasi yang masuk di sektor digital pada tahun 2021. Tahun berikutnya, dana yang masuk hanya sekitar Rp 60 triliun.

    Nailul mengatakan hal tersebut menjadi pemicu sektor digital di Indonesia masih loyo pada semester-1 2023.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Karena di akhir tahun kemarin kita mengalami tech winter. Ini yang sudah saya sampaikan dari awal tahun lalu, dan mungkin kita menghadapi proyeksi yang nggak kalah seru juga adalah proyeksi ekonomi digital di Indonesia,” kata Nailul saat Profit di CNBC Indonesia.

    Ia menyampaikan bahwa penurunan cukup tajam terjadi pada ekonomi digital dalam 2 tahun terakhir. Pada laporan tahun 2021, GMV (Gross Merchandise Value) ekonomi digital di Indonesia diproyeksikan mencapai US$146 miliar pada 2025 mendatang.

    Kemudian pada tahun 2022, proyeksi tersebut dikoreksi menjadi US$130 miliar. Sementara itu, tahun ini proyeksinya kembali dikoreksi sebesar US$109 miliar. Artinya, proyeksi ekonomi digital di RI ke depan makin suram.

    Suram yang dia maksud adalah kembali ke angka yang normal, bahwa GMV yang diproyeksikan tidak setinggi yang dibayangkan 2 tahun silam.

    “Jadi ada proses normalisasi proyeksi digital. Ini yang menyebabkan salah satunya investasi menurun,” jelasnya.

    Tak hanya itu saja, ia mengatakan penyebab investasi menurun juga berasal dari sisi konsumsi rumah tangga yang melambat. Ini menunjukkan ada perlambatan konsumsi masyarakat yang bisa menjadi indikator investor apakah akan menanamkan investasi ke startup digital di RI.

    Belum lagi banyak startup tutup dan PHK yang juga akan menjadi pertimbangan investor apakah akan menempatkan dana di startup yang tepat.

    “Faktor-faktornya itu yang saya catat, BI rate naik 3 persen, Singapura yang cukup banyak investasi di startup digital kita itu cost of fund-nya naik 3,1%,” ujar Nailul.

    “Artinya ini memang ada pengetatan dari sisi cost investment-nya yang ini akan menjadi salah satu faktor juga.” pungkasnya.

    (fab/fab)


    Innovation Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.