Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»AI Bawa Petaka, Kominfo Ungkap Dampaknya ke Politik RI
    Insight News

    AI Bawa Petaka, Kominfo Ungkap Dampaknya ke Politik RI

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa31 Oktober 2023Updated:31 Oktober 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Teknologi Artificial Intelligence (AI) sempat ditakutkan bakal menggantikan posisi manusia dalam pekerjaan yang mengandalkan otomatisasi. Namun ternyata dampak buruk AI bukan cuma itu.

    Ada segudang dampak buruk AI jika penerapannya tak diatur atau risikonya tak dimitigasi. Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo, Mira Tayyiba mengungkapkan insiden terkait AI terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data Stanford University dalam periode 2012-2022 ada peningkatan sebanyak 26 kali.

    “Meningkatnya penyebaran disinformasi yang dihasilkan oleh AI juga perlu menjadi perhatian utama bagi semua pihak karena dapat disalahgunakan untuk memanipulasi opini publik dan menyulut perselisihan, yang kemudian dapat menyebabkan gangguan maupun kekacauan dalam pelayanan publik, ketertiban sosial, maupun stabilitas ekonomi,” jelas Mira Forum Ekonomi Digital Kominfo (FEDK) VI, Selasa (31/10/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    I Nyoman Adhiarna, Sekretaris Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, menyinggung soal disinformasi yang bisa digunakan dengan teknologi AI. Bahkan informasi salah itu sulit dibedakan dengan kenyataan yang sebenarnya.

    Salah satu contohnya adalah tersebarnya video Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tengah berpidato dalam bahasa China. Dalam penjelasan Kominfo, video itu berasal dari kanal The U.S. – Indonesia Society (USINDO) pada 13 November 2015.

    Video itu lalu diedit dengan menggunakan teknologi deepfake. Padahal Jokowi tidak menggunakan bahasa Mandarin saat pidato tersebut.

    “Menciptakan ruang digital menjadi tidak bersih dan sehat. Disinformasi menciptakan gangguan di masyarakat, jadi informasi-informasi yang beredar sulit dibedakan hoaks dan bukan,” kata Adhiarna

    “Contoh presiden pidato bahasa China. Nah ini contoh pemanfaatan AI untuk disinformasi, sehingga masyarakat bisa terpengaruh,” ucapnya menambahkan.

    Adhiarna mengingatkan untuk bisa menjaga ruang digital dengan aman. Apalagi mengingat Indonesia akan menghadapi perhelatan pemilu 2024 mendatang.

    “Dan kita menghadapi perhelatan politik, maka kita harus mampu menjaganya agar ruang digital kita aman dan bersih,” jelas dia.



    Artikel Selanjutnya


    Bukti Baru Google Makin Ditinggal, Penggantinya Serba Bisa

    (npb/npb)


    Mind your business Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.