Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Teknologi Amerika Jajah Arab, Joe Biden Diwanti-Wanti Ini
    Insight News

    Teknologi Amerika Jajah Arab, Joe Biden Diwanti-Wanti Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa27 Juli 2023Updated:28 Juli 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pejabat Arab Saudi mengumumkan bahwa Microsoft menginvestasikan US$2 miliar (sekitar Rp 30 triliun) untuk membangun fasilitas penyimpanan cloud di negara tersebut. 

    Pengumuman itu dibuat di LEAP 2023, sebuah konferensi teknologi tahunan yang diadakan di Riyadh, Arab Saudi. Investasi Microsoft di Arab secara spesifik mengarah ke Neom, pusat ‘kota baru’ yang dibangun Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). 

    Mekanismenya mirip dengan pencana pusat cloud Google di Arab Saudi yang dikritik keras karena memungkinkan pemerintah Saudi menyusup ke perusahaan teknologi Barat.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Alan Woodward, pakar teknologi komputer di University of Surrey di Inggris, mengatakan kepada Business Insider bahwa otoritas Saudi berpotensi dapat mengakses sejumlah besar informasi politik sensitif yang disimpan melalui cloud.

    “Pemerintah [Arab] pada dasarnya dapat melakukan apa yang diinginkannya,” kata Woodward.

    Woodward menambahkan, Arab sudah mewanti-wanti perusahaan Barat seperti Microsoft. Jika ingin beroperasi di Arab, maka datanya harus disimpan di negara tersebut.

    “Itu untuk alasan yang jelas: mereka berpotensi mengaksesnya,” katanya.

    Mengutip New York Post, rilis pers Microsoft tentang investasi tidak membahas tentang sentimen tersebut. Keterangan dari raksasa teknologi itu malah menggembar-gemborkan wilayah pusat data sebagai pengembangan yang akan menangani kebutuhan residensi, keamanan, privasi, serta kepatuhan data organisasi, perusahaan, dan pengembang.

    Hal itu disampaikan Samer Abu-Ltaif, VP dan Presiden Microsoft Eropa Tengah dan Timur, Timur Tengah dan Afrika.

    Presiden Microsoft Arabia, Thamer Alharbi, menambahkan bahwa investasi tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang Microsoft untuk Arab Saudi dan ambisinya untuk transformasi digital.

    Kritikus telah lama tidak setuju dengan Abu-Ltaif dan Alharbi, terutama sejak Microsoft menolak mengungkapkan bagaimana mereka akan melindungi privasi data yang disimpan di Arab Saudi.

    Arab juga telah mengaburkan undang-undang privasi, dan telah memenjarakan orang di masa lalu karena menentang pemerintah di media sosial.

    Awal bulan ini, wanita Saudi Fatima al-Shawarbi dijatuhi hukuman 30 tahun karena mengkritik proyek Neom di Twitter.

    Al-Shawarbi, yang berusia 20-an, juga dilaporkan ditangkap pada tahun 2020 karena menentang perlakuan Arab Saudi terhadap perempuan, menyerukan monarki konstitusional daripada kediktatoran yang ada saat ini.


    Artikel Selanjutnya


    TikTok Diancam Amerika, Tendang China Atau Diblokir

    (fab/fab)


    Insight for you Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.