Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Menkes Buka Kemungkinan Vaksin Covid Booster Berbayar di 2022
    Insight News

    Menkes Buka Kemungkinan Vaksin Covid Booster Berbayar di 2022

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 Agustus 2021Updated:25 Agustus 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Indonesia saat ini memang sedang menjalankan vaksin booster untuk para tenaga kesehatan. Kemungkinan akan ada untuk masyarakat umum di tahun depan.

    “Di Januari [2022] sudah selesai semua, di awal tahun depan kita sudah mulai suntikan ketiga [booster],” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR, Rabu (25/8/2021).

    Rencana tersebut sudah didiskusikan dengan presiden Joko Widodo (Jokowi). Ada kemungkinan jika vaksin booster di tahun depan berbayar, namun berlaku untuk masyarakat umum.

    Dia menjelaskan untuk vaksin di tahun depan kemungkinan yang dibayarkan oleh negara adalah penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan. Jadi akan ada skema umum, bisa beli sendiri atau dalam mekanisme BPJS Kesehatan.

    Harganya suntikkan ketiga kemungkinan sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. “Akan terbuka dengan vaksin yang masuk sehingga rakyat mendapatkan booster bisa memilih, yang PBI kita bisa lakukan subsidinya melalui BPJS [Kesehatan],” ungkapnya.

    Sementara itu, dia menjelaskan vaksin booster secara uji coba klinis bisa melindungi penerimanya. Namun memang masih ada masalah di pihak World Health Organization (WHO).

    Menurutnya WHO tidak mempersalahkan secara klinis, tapi masalah etis. Dengan vaksin yang belum merata, sebaiknya diberikan pada masyarakat yang belum mendapatkan suntikan pertama.

    “Di Indonesia baru sampai saat ini 58 juta beruntung mendapatkan untuk suntikan pertama sekitar 30 juta suntikan kedua. Dengan jumlah vaksin terbatas lebih pas diberikan kepada teman-teman yang belum mendapatkan suntikan pertama,” jelas Budi.

    Dalam kesempatan yang sama Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto mengatakan efikasi vaksin memang akan menurun setelah beberapa bulan didapatkan. Menurut analisanya perlu dilakukan booster setelah 6 hingga 12 bulan setelah penyuntikan.

    “Perlu kami sampaikan sesuai analisa 6-12 bulan sudah harus dilakukan booster harus diantisipasi kecepatan vaksin tidak tercapai,” kata Slamet.

    [Dexpert.co.id]

    (Update dari:CNBC.com )



    Techno for life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.