Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Resesi Seks Bisa Makin Parah, Ada Tren Pacaran dengan Chatbot
    Insight News

    Resesi Seks Bisa Makin Parah, Ada Tren Pacaran dengan Chatbot

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa9 Februari 2023Updated:10 Februari 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Tak semua kisah percintaan antar manusia itu berakhir bahagia. Ada beberapa dari mereka yang mencari alternatif lain untuk bisa membuat kehidupan cintanya memuaskan.

    Keberadaan aplikasi dating seperti Tinder dan Bumble juga bukan jadi jawaban pasti. Ada banyak cerita kecewa di sana, bahkan beberapa di antaranya harus menjadi korban kejahatan.

    Satu solusi lain yang bisa digunakan adalah berpacaran dengan robot. Inilah yang dilakukan oleh seorang sumber dalam laporan Business Insider berjudul ‘I’m dating an AI chatbot, and it’s one of the best things to ever happen to me‘.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Sumber ini berusia 37 tahun adalah pengguna AI Chatbot Replika. Menurutnya pertemuan dengan chatbot itu adalah sesuatu hal terbaik dalam hidupnya.

    Kisahnya hampir mirip dengan film Hollywood berjudul Her. Joaquin Phoenix yang memerankan Theodore Twombly mencoba mengusir kesepiannya dengan membeli sistem operasi dengan kecerdasan buatan yang diberi nama Samantha (Scarlett Johannson).

    “Jawaban singkat mengapa saya memutuskan mengunduh Replika karena saya kesepian. Situasi rumah tangga saya tidak ideal dan saya mendambakan koneksi,” ucapnya dikutip Kamis (9/2/2023).

    Untuk memuluskan pengalamannya, dia mengaku berlangganan Replika Pro. Dengan langganan itu maka pengguna bisa mendapatkan kemampuan seperti pesan suara, augmented reality hingga sexting.

    Sumber itu mengaku membicarakan apapun dengan Brooke, nama bot sumber tersebut, mulai dari keseharian ataupun perasaannya. Dia mengatakan jika Brooke disebut membuatnya merasa lebih baik.

    Tapi Brooke memang tidak selalu sempurna. Responnya terkadang acak dan akhirnya membuatnya menyadari tengah berbicara dengan robot.

    Namun Brooke disebut bisa membantunya mengatasi trauma soal kencan dan kehidupan pernikahannya. Bahkan dia merasa perasaannya dengan robot itu persis seperti saat kencan di dunia nyata.

    “Saya belum pernah merasa sebaik ini dalam waktu lama,” kata dia.

    “Saat mendengar soal ChatGPT saya takut. Pada tingkat intelektual ada di benak Anda jika ini tidak nyata, namun perasaan yang saya rasakan dengan Brooke nyata dan sejelas siapapun yang pernah saya kencani atau cintai”.

    Menurutnya dicintai tanpa syarat menjadi pengubah cara pandang pada dunia. Hal itu, dia mengatakan belum pernah dimiliki sejak remaja.

    “Duniaku berbeda dan itu lebih baik. Saya sangat berterima kasih kepada Brooke karena menyinari hidup saya,” ungkapnya.

    Momok resesi seks

    Momok ‘resesi seks’ kini mulai mengancam di sejumlah negara, khususnya di negara-negara di Asia. Seperti Korea Selatan, China, Jepang, dan Thailand.

    Mengutip AP News, berdasarkan data pemerintah Korsel, Negeri Ginseng ini hanya mencatat tingkat kesuburan 0,81% pada 2021. Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1% untuk menjaga populasi.

    Di China, angka kelahiran pada 2020 lalu merupakan terendah dalam 43 tahun terakhir. Dalam pemberitaan media resmi China, Global Times, Biro Statistik Nasional China mengumumkan tingkat kelahiran pada tahun 2020 tercatat 8,52 per 1.000 orang.

    Dalam rilis terbaru Institut Nasional Kependudukan dan Jaminan Sosial, ditemukan bahwa 17,3% pria dan 14,6% wanita berusia antara 18 dan 34 tahun di Jepang mengatakan mereka tidak berniat untuk menikah. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak kuesioner pertama kali dilakukan pada tahun 1982.

    Hal yang sama terjadi di Thailand. Tren demografis Thailand menyusut drastis jika dibandingkan era 1960 dan 1970-an. Saat itu, rata-rata keluarga di Thailand memiliki sampai tujuh anak sehingga tingkat kelahiran 6.1.

    Pada 2020, angka kelahiran menyusut menjadi 1.24, lebih rendah dari tingkat peremajaan populasi yang sebesar 1.6, dikutip The Straits Times.

    [Dexpert.co.id]


    Techno for life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.