Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Bos Sinar Mas Soal Masa Kelam Startup: Ga Krisis, Ga Belajar
    Insight News

    Bos Sinar Mas Soal Masa Kelam Startup: Ga Krisis, Ga Belajar

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 November 2022Updated:26 November 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Dunia startup sedang diterjang badai pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan. Melihat hal ini, pengusaha nasional sekaligus pemilik Sinar Mas, Franky Oesman Widjaja, pernah menyampaikan pesannya ke pengusaha startup.

    Menurut Franky, untuk kondisi startup saat ini memang berubah dari sebelumnya, yaitu ketika negara-negara besar seperti di Eropa dan Amerika Serikat (AS) melakukan kebijakan “cetak uang”, sehingga likuiditas melimpah.

    Istilah “mencetak uang” ini mulai populer setelah krisis finansial 2008, saat itu The Fed (bank sentral AS) dan beberapa bank sentral utama dunia lainnya menerapkan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE). Kebijakan QE oleh bank sentral ini disebut sebagai “printing money” atau “mencetak uang”.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Jadi saat itu raise fund [menggalang dana] gampang untuk startup karena banyak yang cetak duit. Dana-dana ini banyak diinvestasikan, semua startup dikasih uang-uang besar,” ungkap Franky saat acara makan malam di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

    Franky mengatakan, di era “cetak uang” tersebut para investor melakukan investasi besar-besaran di startup.

    Uang tersebut digunakan untuk dibakar untuk promosi-promosi untuk menarik pelanggan, atau istilahnya burning money.

    “Jadi model bisnisnya dulu begitu [burning money]. Kalau ada yang sukses bagus,” ujarnya.

    Tapi sekarang, kebijakan uang ketat dimulai, tidak selonggar sebelumnya. Bahkan bank sentral AS, The Fed, mulai menaikkan suku bunga acuannya. Akibatnya, investor lebih hati-hati menggunakan uangnya.

    Kondisi ini menurut Franky bagus, untuk menjadi pelajaran bagi startup. Sehingga para pengusaha startup ini bisa belajar, bersaing, dan beradaptasi sehingga makin kuat.

    “Kalau tidak pernah ada krisis seperti ini tidak belajar. Everybody learn bagaimana make the real business, tapi tidak lagi dengan cara yang gampang. Jadi bagaimana mencari cara yang cepat dan tepat.” pungkasnya.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Ini Kata Bos Sinar Mas Soal Masa Kelam Startup & Badai PHK

    (dem)


    Mind your business Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.