Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»7 Tanda Psikologis Anak Belum Siap Sekolah
    Inspiring You

    7 Tanda Psikologis Anak Belum Siap Sekolah

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman11 Oktober 2023Updated:11 Oktober 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jangan dipaksakan dan buru-buru, ada beberapa tanda psikologis anak belum siap sekolah yang perlu diperhatikan orang tua. Jika Si Kecil mengalaminya, segera konsultasi dan cari bantuan profesional ya, Bunda.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dikutip dari Romper, saat ini sudah semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa prasekolah berpotensi membantu meningkatkan keterampilan akademis dan sosial. Namun, bagaimana jika ternyata tampaknya secara psikologis anak belum siap sekolah?

    “Setiap prasekolah harus siap untuk setiap anak,” kata Susan Friedman, dari National Association for the Education of Young Children.

    Menurut Friedman, ada berbagai macam cara anak-anak berkembang. Perlu diingat pula bahwa tidak semua anak mampu berkembang dengan kecepatan yang sama. Di lingkungan prasekolah, seorang guru harus mampu mengindividualisasikan apa yang terjadi dengan cara yang dapat menjangkau semua anak.

    Tanda psikologis anak belum siap sekolah
    Berikut adalah beberapa tanda bahwa anak mungkin belum siap secara psikologis untuk menghadapi transisi besar, beserta contoh solusi yang dapat dicoba seperti dilansir berbagai sumber:

    1. Masih sulit berpisah dari orang tua
    Beberapa anak mengalami sedikit atau bahkan tidak mengalami kesulitan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang tuanya lalu bergegas masuk kelas. Tapi sebagian lainnya mungkin akan menangis, memeluk erat, atau bahkan mencoba melarikan diri.

    Kedua reaksi tersebut sebenarnya normal-normal saja. Beberapa kecemasan dan kerinduan akan orang tua diperkirakan akan terjadi pada awal prasekolah, dan ini dapat berlangsung hingga beberapa pekan.

    “Ada cara yang dapat digunakan oleh guru dan orang tua untuk membantu anak mengucapkan selamat tinggal. Salah satu tekniknya adalah meminta anak tersebut memegang foto keluarganya, sementara guru mendorong mereka untuk bergabung dalam kegiatan kelas,” ungkap Friedman.

    Jika anak belum punya banyak pengalaman terpisah dari orang tua, khususnya Bunda, beri mereka latihan beberapa minggu sebelum sekolah dimulai dengan meminta pengasuh atau orang dewasa terpercaya lainnya mengawasi saat Bunda pergi keluar selama satu atau dua jam.

    2. Belum lulus toilet training
    Pada usia 3 atau 4 tahun, sebagian besar anak dapat menggunakan toilet secara mandiri hampir sepanjang waktu. ‘Kelepasan’ sesekali mungkin terjadi, dan guru prasekolah biasanya sejak awal meminta orang tua untuk meninggalkan pakaian ganti di loker anak.

    Namun, sebagai langkah pencegahan, manfaatkan waktu beberapa minggu awal sebelum masuk sekolah untuk toilet training.

    3. Sulit mengikuti arahan
    Anak usia prasekolah harus mampu merespons arahan sederhana seperti ‘duduk di sini’ atau ‘pakai jaketmu dan berbaris di depan pintu’. Jika hal tersebut menjadi masalah bagi Si Kecil, beri mereka lebih banyak latihan dalam mengikuti instruksi dan menyelesaikan tugas secara mandiri.

    4. Mudah kewalahan
    Sekolah adalah tempat yang ramai, dengan banyak anak, kebisingan, dan aktivitas. Beberapa anak sudah terbiasa dan mampu beradaptasi dengan keriuhan seperti ini, sementara yang lain menjadi pemalu atau mudah menangis.

    Menurut Child Mind Institute, anak-anak dengan masalah proses sensorik sangat sensitif dan mungkin rentan terhadap situasi ramai di lingkungan prasekolah.
    Coba perkenalkan terlebih dahulu anak pada lingkungan belajar yang tidak terlalu ramai, misalnya kelas musik atau kelompok bermain. Ini akan membantu melatih mentalnya menghadapi sekolah yang lebih ramai.

    5. Sulit berbaur dengan anak-anak lain
    Di prasekolah, anak-anak belajar dan terlibat dalam keterampilan sosial-emosional seperti menunggu giliran, bermain kooperatif, resolusi konflik, dan mengenali emosi orang lain. Hal ini tidak selalu mudah bagi anak prasekolah lantaran setiap anak mempunyai momen ‘saya tidak mau berbagi’.

    Namun, seorang anak yang terus-menerus mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman-temannya, seperti senang mendorong, memukul, menggigit, mengambil mainan, mungkin memerlukan lebih banyak latihan sosialisasi di rumah sebelum mulai bersekolah.

    “Lingkungan sekolah adalah cara yang bagus bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan sosial tersebut. Tetapi ada pengalaman yang dapat dilakukan anak-anak di rumah untuk mempersiapkan mereka memasuki sekolah,” ujar Friedman.

    Bunda dapat merencanakan waktu bermain dengan anak dan memberikan contoh perilaku yang pantas. Misalnya, berlatih menunggu giliran atau berkata yang sopan.

    6. Belum bisa mengikuti jadwal sekolah
    Saat mulai sekolah, anak harus dapat bertransisi dengan mudah dengan mengikuti jadwal yang sudah ditentukan. Untuk mempermudah keterampilan ini bagi anak, buatlah jadwal yang dapat diprediksi di rumah dan buatlah rutinitas di antara aktivitas, seperti mencuci tangan sebelum makan atau menyanyikan lagu bersih-bersih setelah waktu bermain.

    Untuk mempermudah adaptasi di pagi hari, mungkin Bunda perlu menyesuaikan jam tidur Si Kecil.

    7. Belum bisa berkomunikasi dengan jelas
    Seorang anak tidak harus menjadi orang yang banyak bicara agar berhasil di prasekolah, tetapi idealnya mereka harus mampu mengungkapkan kebutuhannya, baik melalui kata-kata atau isyarat.

    Menurut American Speech-Language-Hearing Association, antara usia 3 dan 4 tahun, ucapan seorang anak harusnya dapat dimengerti hampir sepanjang waktu. Mereka juga harus mampu menyusun kalimat pendek dan menjawab pertanyaan sederhana tentang ‘siapa-apa-di mana’.

    Jika Bunda mengkhawatirkan kemampuan komunikasi Si Kecil, bicarakan dengan ahlinya sebelum mendaftarkan anak ke sekolah. Hal yang tak kalah penting, apabila anak sedang dievaluasi secara profesional karena keterlambatan bahasanya, jangan lupa beri tahu pihak sekolah dan tanyakan strategi apa yang mereka miliki untuk mengajar siswa yang dengan masalah komunikasi.

    Artikel selengkapnya >>> Klik di sini



    Artikel Selanjutnya


    Ayah & Bunda, 10 Etika Dasar Ini Perlu Diajarkan Kepada Anak

    (Sumber: CNBC.com )


    Innovation True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.