Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»5 Ciri Pasangan Bisa Lakukan Kekerasan seperti Ronald Tannur
    Inspiring You

    5 Ciri Pasangan Bisa Lakukan Kekerasan seperti Ronald Tannur

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman12 Oktober 2023Updated:12 Oktober 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Tidak sedikit orang masih berpandangan sempit terkait kekerasan. Menurut ahli terapi klinis dan spesialis kesehatan pikiran dan tubuh, Michele Kambolis, banyak kasus menunjukkan bahwa ketika seseorang menganggap enteng kekerasan, hal itu bisa berbahaya bahkan dapat mengancam jiwa.

    Misal, seperti kasus penganiayaan yang dilakukan Ronald Tannur, seorang anak anggota DPR RI. Ronald menganiaya kekasihnya DSA (29) yang baru ia kencani selama 5 bulan hingga meninggal dunia.

    Jennifer C. Genovese, pekerja sosial klinis berlisensi mengatakan bahwa pelecehan emosional, pelecehan psikologis, pelecehan seksual, pelecehan finansial, pelecehan, dan penguntitan semuanya termasuk dalam kekerasan dalam hubungan. Menurutnya tanda-tanda kekerasan dalam suatu hubungan tidak selalu mudah dideteksi oleh orang lain, dan bahkan lebih sulit dikenali oleh mereka yang mengalaminya.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Hubungan yang penuh kekerasan mungkin tampak intens atau penuh kasih sayang pada awalnya.

    “Pasangan dominan mungkin tampak sangat perhatian, protektif, dan perhatian, serta menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang luar biasa,” jelas Genovese.

    Kenali tanda-tanda awal kekerasan dalam hubungan, seperti dikutip dari Everyday Health:

    1. Bersikeras Menemani Anda ke Mana Saja

    Pelaku kekerasan yang ingin mengisolasi Anda dari orang lain tidak pernah meninggalkan Anda sendirian, namun bukan karena mereka sangat sayang dan hanya ingin waktu bersama.

    Tindakan tersebut justru untuk membangun kekuasaan dan dominasi atas diri Anda. Merek juga ingin menjauhkan Anda dari orang-orang terkasih, sehingga Anda hanya bisa bergantung kepada pasangan.

    Pelaku kekerasan dapat secara tidak langsung mengisolasi seseorang dengan tidak mengizinkannya meninggalkan rumah atau melakukan aktivitas apa pun sendirian, seperti pergi ke sekolah atau bekerja, menemui dokter, berbelanja, atau berpartisipasi dalam acara bersama keluarga besar atau teman.

    2. Sering Menggunakan Taktik Gaslighting

    Gaslighting adalah salah satu bentuk pelecehan psikologis di mana pelakunya menyebabkan seseorang mempertanyakan keputusannya sendiri. 

    Menurut Genovese, gaslighting dapat berupa ejekan atau mempermalukan seseorang, dan kemudian menuduh Anda terlalu sensitif, baper, lebay, atau dramatis ketika bereaksi terhadap ejekan tersebut.

    “Korban dibuat merasa bingung… sehingga mulai mempertanyakan reaksi dan perasaan mereka sendiri,” kata Genovese.

    Dalam hubungan seperti ini, pelaku sering kali menggambarkan orang yang dianiaya sebagai orang yang tidak sehat secara mental dan terlalu reaktif, atau meremehkan insiden pelecehan sebagai argumen yang normal. Seiring waktu, orang yang dianiaya mungkin mempertanyakan semua pemikirannya sendiri, membuat mereka semakin bergantung pada pelaku.

    3. Menggunakan Love Bombing 

    Love bombing atau bom cinta yang dapat berupa hadiah, pujian, permintaan maaf, dan janji muluk-muluk untuk tidak mengulangi perilaku kasar. Jika hal ini terjadi, carilah bantuan untuk memutuskan hubungan dengan aman. 

    4. Orang yang Dianiaya Tampak Tak Berdaya

    Seseorang yang mengalami kekerasan dalam hubungan mungkin nampak pasrah. Misalnya, korban mungkin menghubungi pelaku kekerasan sebelum mengambil keputusan apa pun, sekecil apa pun. Mereka juga mungkin menghindari menjawab pertanyaan di depan orang lain tanpa meminta izin dari pelaku kekerasan.

    5. Hubungan sering putus-sambung

    Seseorang yang mengalami kekerasan dalam hubungan seringkali harus mencoba meninggalkan pasangannya hingga beberapa kali, sebelum akhirnya bisa benar-benar kembali ke kehidupannya sendiri.

    Menurut Women Against Abuse, ada beberapa alasan yang menyebabkan hal ini:

    • Mereka kekurangan sumber daya, seperti tempat tinggal yang aman atau moda transportasi yang dapat diandalkan.
    • Mereka takut jatuh ke dalam masalah finansial atau kemiskinan.
    • Mereka mengkhawatirkan kesejahteraan keluarga,
    • Ketakutan akan bahaya atau pembalasan dari pelaku

    (hsy/hsy)


    Inspirasi Sukses Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.