Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Soekarno Muda Hidup Menderita, Pernah Dipukuli Teman Sekolah
    Inspiring You

    Soekarno Muda Hidup Menderita, Pernah Dipukuli Teman Sekolah

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman22 Februari 2024Updated:22 Februari 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kasus pemukulan saat masa sekolah juga pernah dialami oleh Presiden Soekarno di masa muda. Hanya saja, kejadian ini berlangsung di bawah rezim kolonialisme yang memang kental dengan nuansa diskriminasi dan rasial terhadap pribumi.

    Kasus ini terjadi saat Soekarno bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS) sekitar tahun 1915. HBS termasuk sekolah lanjutan menengah yang ditempuh dalam waktu 3 tahun dan hanya diperuntukkan untuk orang Eropa dan bangsawan Pribumi.  Soekarno memang salah satu orang Indonesia cukup beruntung saat itu karena bisa bersekolah. Pasalnya, sekolah jadi sesuatu yang mahal dan berharga, sehingga tak semua orang bisa menempuhnya.

    Pada saat bersekolah inilah, Soekarno yang berasal dari kaum pribumi dianggap sebelah mata oleh guru dan teman-temannya yang mayoritas berkulit putih. Terlebih, Soekarno termasuk orang yang kritis. Dia tak segan melawan sistem sekolah yang berlaku, seperti menolak menggunakan bahasa Belanda dan lebih mendorong bahasa Indonesia.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT




    Foto: Presiden pertama Indonesia Soekarno saat bertemu Presiden Prancis Jenderal de Gaulle Di Istana Elysée, di Paris, Prancis, pada 21 Juni 1963. (File Foto – Gamma-Keystone via Getty Images/Keystone-France)

    Atas dasar inilah, dia tak punya teman sekolah. Murid berkulit putih lain menjauhi dan tak mau bermain dengan orang yang kelak jadi presiden Indonesia itu. Hinaan dan cacian sudah jadi makanan sehari-hari Soekarno saat bersekolah. 

    Nilai yang diberikan dari guru ke Soekarno pun juga berbeda. Dia dan mayoritas teman dari pribumi seringkali diberikan nilai jelek hanya karena bukan orang kulit putih.  Bahkan, teman-temannya juga dengan sengaja dan tanpa alasan ingin melukai Soekarno begitu saja. 

    “Mereka pun berusaha agar hidung kami (murid pribumi) selalu berdarah,” kenang Soekarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1966). 

    Pernah juga suatu hari Soekarno ingin masuk kelas, tetapi tiba-tiba ada murid lain yang menghalangi langkah dan mengejek dengan pernyataan menggores hati: “Minggir, anak inlander!,”  Inlander adalah sebutan bagi kaum pribumi.

    Soekarno yang tak mau minggir lantas dipukuli hingga babak belur. Perkelahian pun terjadi. Namun, tetap saja Soekarno yang kalah. Dan, kejadian ini tak berlangsung 1-2 kali saja, melainkan setiap hari. Jadi, setiap hari pula Soekarno berdarah-darah. 

    Beruntung, Soekarno bisa melewati masa-masa itu semua meski kerap kali menelan pil pahit.  Setelahnya, dia lanjut sekolah di Bandung, tepatnya perguruan tinggi yang kini disebut ITB. Kini, semua orang mengetahui bahwa pria yang pernah hidup menderita dan dipukuli teman sekolah itu di masa depan jadi Presiden Indonesia. 



    Artikel Selanjutnya


    Biaya Sekolah di Binus School Serpong yang Diterpa Isu Bullying

    (mfa/mfa)


    Mind your business Never Give Up
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.