Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Sepak Terjang Ratu Kosmetik RI Pemilik 14 Merek Kecantikan
    Inspiring You

    Sepak Terjang Ratu Kosmetik RI Pemilik 14 Merek Kecantikan

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman28 Februari 2024Updated:28 Februari 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam beberapa tahun terakhir, merek kecantikan lokal mendominasi pasar Indonesia, sukses menggeser produk-produk Korea dan Jepang.

    Industri kecantikan berkembang pesat karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk merawat diri. Kehadiran e-commerce juga ikut menopang pertumbuhan industri tersebut.

    Salah satu sosok paling berpengaruh di balik cemerlangnya industri kecantikan lokal adalah Nurhayati Subakat. Dia adalah pendiri Paragon Corp, perusahaan yang membawahi 14 merek kecantikan, termasuk Wardah, Make Over, Tavi, OMG, Emina, Putri, Kahf, dan masih banyak lagi.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Lantas, bagaimana sepak terjang Nurhayati Subakat semasa hidup?




    Foto: CNBC Indonesia/Fitriyah Said,
    Pendiri Wardah Nurhayati Subakat (CNBC Indonesia/Fitriyah Said)

    Nurhayati lahir di Padang Panjang, 27 Juli 1950. Sejak kecil dia dikenal sebagai anak yang cerdas. Kecerdasan inilah yang membuatnya bisa masuk ke sekolah terbaik di tiap jenjang pendidikan termasuk sukses menembus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1971.

    Di ITB, Nurhayati mengambil jurusan farmasi. Dia berkuliah selama 4 tahun dan saat kelulusan berhasil meraih predikat lulusan terbaik, baik itu di jenjang sarjana dan kuliah profesi. 

    Meski demikian, predikat lulusan terbaik yang disandangnya tak membuat Nurhayati sukses dalam menjalani kehidupan pasca kampus. Sama seperti mayoritas fresh graduate lain, dia juga sempat merasakan frustrasi karena tak ada perusahaan yang mau menerimanya. 

    “Saya kerap kali ditolak saat melamar kerja dan itu berkali-kali. Awalnya saya bercita-cita menjadi dosen, namun saya ditolak,” katanya, kepada civitas ITB 2019 silam.

    Setelah berulangkali dapat penolakan, Nurhayati akhirnya diterima kerja juga. Pekerjaan pertamanya adalah apoteker di rumah sakit. Namun, pekerjaan ini tak berlangsung lama karena dia harus pindah ke Jakarta bersama suami.

    Sempat jual sampo dari rumah ke rumah

    Saat di Jakarta, perempuan Minang itu memulai kembali hidup dari nol. Dia cari kerja lagi hingga diterima. Lalu, beberapa tahun kemudian resign karena mengurus anak. Saat mengurus anak inilah, dia terpikir untuk menjadi wirausaha.

    “Dengan berbekal ilmu yang didapat saat kuliah dan pengalaman kerja, saya bertekad membuka usaha kosmetik yang berkualitas dengan harga bersaing,” kata Nurhayati. 

    Maka, dia pun menjual sampo perempuan merek Putri pada 1985 di bawah bendera Pusaka Tradisi Ibu (PTI).

    Pada awalnya, bisnis Nurhayati hanya kecil-kecilan. Bergerak secara home industry dan dipasarkan dari rumah ke rumah. Tak mudah baginya untuk bisnis sampo karena sudah banyak pemain di pasaran. 

    Perlahan tapi pasti, sampo Putri mulai laris di pasaran. Untuk meningkatkan produksi, dia pun mendirikan pabrik lebih besar pada 1990. Sayang, eksistensi pabrik itu tak lama karena kebakaran dan terancam pailit. 

    Nurhayati pun terpuruk. Dia bimbang harus melanjutkan bisnis tersebut atau tidak. 

    Pioner kosmetik halal

    Setelah bisnisnya terpuruk, Nurhayati mendapat secercah harapan saat pemerintah gencar mensosialisasikan produk halal. Dia melihat saat itu belum ada produk non-konsumsi yang tersertifikasi halal, khususnya di dunia kosmetik. Alhasil, perusahaan pun mengalihkan target pasar kepada jutaan muslimah pada 1995. 

    “Alasannya tak lain karena mereka yakin pangsa pasar tersebut cukup besar dan para wanita butuh ketenangan dalam merias wajah,” tulis Tren Hijaber dalam Dunia Fashion Indonesia.

    Sejak itulah PT Pusaka Tradisi Ibu kembali eksis. Mereka membuat produk kosmetik bernama Wardah yang mengusung jaminan halal. Apa yang dilihat Nurhayati ihwal peluang kosmetik halal pada akhirnya terbukti. Wardah sukses di pasaran. 

    Dari sini, Nurhayati mulai menapaki tangga kesuksesan. Namanya mulai harum di industri kosmetik dari pasar lokal. Begitu pula Pusaka Tradisi Ibu yang kemudian berubah nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation pada 2011. Perubahan nama ini dibarengi pula oleh usaha yang beranak-pinak

    Saat ini, Paragon Corp telah menjadi pemain penting dalam industri kecantikan di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 30%. 


    Artikel Selanjutnya


    Orang Ini Kaya Raya Berkat Pungut Limbah Buat Jadi Kosmetik

    (mfa/mfa)


    Berani sukses Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.