Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Saat Soeharto Fobia China & Larang Orang Tionghoa Rayakan Imlek
    Inspiring You

    Saat Soeharto Fobia China & Larang Orang Tionghoa Rayakan Imlek

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman10 Februari 2024Updated:10 Februari 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, CNBC Indonesia – Selama 25 tahun terakhir, masyarakat keturunan Tionghoa bisa merayakan Tahun Baru Imlek secara bebas. Hal ini berbeda dengan kondisi sebelumnya saat mereka tidak bisa merayakan perayaan keagamaannya karena dilarang oleh negara.

    Periode ini terjadi dalam kurun 1968-1998, atau saat Presiden Soeharto berkuasa. Pelarangan ini bermula dari prasangka buruk Soeharto terhadap China yang identik dengan komunisme. Jadi, dia menganggap China dan semua keturunannya berbahaya, termasuk mereka yang berada di Indonesia sejak lama.

    Alhasil, merujuk riset yang dipaparkan Amy Freedman, Soeharto ingin orang-orang Tionghoa melakukan asimilasi dengan kebudayaan pribumi atau warga asli Indonesia. Sebagai catatan, sentimen Soeharto itu juga membuat orang Tionghoa di Indonesia dikategorikan sebagai non-pribumi.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Merujuk Siew-Min Sai dan Chang-Yau Hoon dalam Chinese Indonesians Reassessed (2013), Soeharto bahkan menganggap kebudayaan China dapat menimbulkan pengaruh psikologis, mental, dan moril yang kurang wajar terhadap Warga Negara Indonesia.

    Beranjak dari prasangka inilah, Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Intinya, aturan tersebut melarang apapun yang berbau China bebas disuarakan di Indonesia. Mulai dari penggunaan bahasa Mandarin, lagu-lagu, hingga perayaan Imlek.

    Sosiolog Mely G Tan dalam Etnis Tionghoa di Indonesia (2008) menyebut kebijakan tersebut melanggar hak asasi mengenai ekspresi kebudayaan suatu kelompok. Dalam hal ini kebudayaan Tionghoa jelas membuatnya terhapus.

    Padahal, merujuk tulisan Chinese Indonesians Reassessed (2013), perayaan Imlek sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia jauh sebelum Soeharto berkuasa. Tiap kali Imlek, orang-orang lintas etnis merayakan dengan sumringah. Etnis Tionghoa pun bisa dengan bebas pergi ke tempat ibadah.

    Namun, sejak aturan itu keluar, mereka tak lagi bisa melakukan hal sama secara bebas. Jika ingin tetap merayakan Imlek, mereka harus diam-diam melakukannya. Tentu, itu dilakukan tanpa diberi hari libur seperti sekarang.  

    Bahkan, kata ‘Imlek’ sendiri pun lahir dan diciptakan di masa Orde Baru sebagai bentuk penyesuaian tata bahasa. Sebab, di China, perayaan ini lazim disebut Sin Cia, diambil dari bahasa Mandarin yang saat Orde Baru dilarang. Atas dasar inilah, kata ‘Imlek’ hanya ada di Indonesia.

    Selain itu di imlek, ruang gerak etnis Tionghoa cukup terbatas. Para seniman tak bisa menampilkan pentas seni berbau kebudayaan Tionghoa. Lalu, untuk sekedar keperluan administrasi kependudukan juga berlaku hal sama. Mereka harus melampirkan bukti yang menyatakan mereka benar-benar warga Indonesia.

    Beruntung aturan diskriminasi tersebut berakhir saat Orde Baru runtuh. Di awal reformasi, Presiden B.J Habibie dan Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan aturan yang mencabut seluruh aturan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa yang dikeluarkan Soeharto.

    Orang Tionghoa bisa mengekspresikan kembali kebudayaannya secara bebas, termasuk juga perayaan Tahun Baru Imlek. Meski begitu, diskriminasi terhadap orang Tionghoa tidak serta merta hilang begitu saja karena sudah telanjur mengakar.



    Artikel Selanjutnya


    Anak Muda di China Kok ‘Ogah’ Nikah Ya? Begini Analisisnya…

    (mfa/mfa)


    Mind your business Never Give Up
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.