Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Resesi Seks di China Makin Serius, 15.000-an Sekolah TK Tutup!
    Inspiring You

    Resesi Seks di China Makin Serius, 15.000-an Sekolah TK Tutup!

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman13 Juli 2024Updated:13 Juli 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Dampak negatif dari minimnya pernikahan yang menghasilkan keturunan semakin nyata muncul di China. Ribuan taman kanak-kanak atau TK di negara tersebut kini tutup.

    Mengutip catatan Channel News Asia atau CNA hampir 15.000 TK tutup di China tahun lalu, seiring dengan jatuhnya angka penerimaan murid baru sekitar 5,3 juta dibanding 2022.

    “Krisis sudah memukul sektor pendidikan, dengan ribuan prasekolah ditutup di seluruh negeri karena pendaftaran kosong,” tulis laporan CNA dikutip Sabtu (13/7/2024)

    Mengutip laporan The Strait Times, tutupnya ribuan TK di negeri tirai bambu itu dipicu oleh semakin berkurangnya populasi anak-anak. Populasi anak di negara itu menyusut imbas dari angka kelahiran di China yang merosot.

    Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat angka kelahiran China terus turun ke rekor terendah yaitu 6,39 kelahiran per 1.000 orang. Jumlah ini turun dari 6,77 kelahiran per 1.000 orang pada 2022.

    Artinya, hanya ada 9.02 juta bayi yang lahir pada 2023, dibandingkan 9,56 bayi yang lahir pada 2022.

    Penyusutan populasi ini menandai fenomena resesi seks dan tantangan demografi yang dihadapi pemerintahan Presiden Xi Jinping di tengah pelemahan ekonomi China belakangan ini.

    Di sisi lain, populasi negara itu cenderung mengalami peningkatan signifikan pada golongan masyarakat lanjut usia atau lansia pada 2023, dengan penambahan hampir 17 juta orang berusia 60 tahun ke atas.

    Kelompok usia tersebut sudah mencakup lebih dari 20 persen populasi, suatu proporsi yang diperkirakan akan meningkat hingga hampir sepertiga pada tahun 2035, menurut Economist Intelligence Unit, sebuah kelompok penelitian.

    Pemerintah China bahkan memperkirakan bahwa produk dan layanan yang melayani orang tua – dari pariwisata ramah lansia hingga perawatan medis berbasis teknologi – dapat bernilai 30 triliun yuan, setara US$ 4,13 triliun pada 2035.

    “(Masalahnya) menjadi sangat jelas saat jumlah anak terus berkurang,” kata kepala sekolah sebuah TK Li Xiuling yang dikutip dari The Straits Times.

    Sebagian TK yang tidak lagi beroperasi akhirnya dialihkan menjadi tempat lain, salah satunya menjadi klinik kesehatan lansia di Provinsi Shanxi.

    Hal ini juga yang dilakukan Li pada sekolah TK yang ia dirikan pada tahun 2005, dan terpaksa harus tutup pada tahun 2023. Sejak saat itu, ia telah mengubahnya menjadi pusat kesehatan dan sosial lansia di lingkungannya.

    “Setelah taman kanak-kanak saya kosong, saya berpikir bagaimana memanfaatkannya sebaik mungkin,” tuturnya.

    Saksikan video di bawah ini:

    Resistensi Bisnis Kecantikan di Tengah Tantangan Ekonomi Global


    (pgr/pgr)

    Mind your business True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.