Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Rebecca Klopper Diduga Jadi Korban Revenge Porn, Apa Itu?
    Inspiring You

    Rebecca Klopper Diduga Jadi Korban Revenge Porn, Apa Itu?

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman8 Juni 2023Updated:8 Juni 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Beberapa waktu lalu, warganet dihebohkan oleh video syur berdurasi 47 detik yang diduga sebagai aktris Indonesia, Rebecca Klopper. Sebagian besar warganet menyebutkan bahwa Rebecca mengalami revenge porn.

    Lantas, apa itu revenge porn?

    Revenge porn atau pornografi nonkonsensual adalah salah satu bentuk kekerasan seksual berupa penyebaran foto atau video aktivitas seksual seseorang tanpa persetujuan kedua belah pihak. Umumnya, revenge porn dilakukan dengan tujuan balas dendam pelaku, ingin mempermalukan, hingga mengancam korban.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Sebagian besar korban kasus revenge porn di Indonesia adalah perempuan. Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Kekerasan Terhadap Perempuan 2019, 33 persen dari 97 kasus kekerasan siber pada perempuan termasuk dalam kategori revenge porn. Komnas Perempuan mencatat, 61 persen pelaku kekerasan siber ini adalah mantan pasangan korban.

    “Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2021, kasus kekerasan berbasis gender online mengalami kenaikan pesat, yakni dari 281 kasus pada 2019 dan naik menjadi 942 kasus pada 2020,” tulis Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), dikutip Kamis (8/6/2023).

    Menurut CATAHU Komnas Perempuan 2023, beberapa jenis KGBO yang paling banyak terjadi adalah ancaman penyebaran video pornografi, revenge porn, diminta mengirimkan foto atau video berkonten pornografi, penyebaran foto atau video pornografi.

    Terdapat sejumlah dampak yang bisa terjadi pada korban revenge porn, yakni kecemasan, depresi, gangguan stres pasca trauma (PTSD), kesulitan dalam hubungan saat ini atau di masa depan, dan kesulitan dalam pekerjaan saat ini atau di masa depan.

    Namun, melansir dari Green Network Asia, aktivis dan penulis asal Amerika, Mary Anne Franks, menyebutkan bahwa istilah revenge porn terkadang disalahpahami karena perilaku tersebut tidak selalu berkaitan dengan balas dendam.

    Sebuah kelompok feminis di Indonesia, Purple Code, menunjukkan bahwa penyebaran gambar-gambar intim tanpa persetujuan, seperti kekerasan berbasis gender lainnya, sering kali dilakukan sebagai upaya untuk melangsungkan hirarki kekuasaan, yaitu kontrol dan dominasi atas korban, bukan balas dendam.

    Kata ‘revenge‘ dapat menyiratkan bahwa korban pernah melakukan sesuatu yang layak untuk dibalas oleh pelaku. Melalui cara ini, istilah ‘revenge porn‘ dinilai seperti melazimkan budaya menyalahkan korban.

    Selain itu, istilah ‘porn‘ menyiratkan bahwa mengambil foto diri sendiri dalam keadaan telanjang atau terlibat dalam tindakan seksual (atau mengizinkan orang lain untuk mengambil foto tersebut) pada dasarnya adalah pornografi. Membuat gambar eksplisit dalam konteks hubungan pribadi dan intim seharusnya tidak dianggap sebagai pornografi.

    Saat istilah revenge porn mulai populer, salah satu kasus yang paling umum terjadi di dunia maya adalah mantan pasangan yang ‘membalas dendam’ dengan membagikan gambar-gambar intim korban.

    (hsy/hsy)


    Berani sukses Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.