Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»PRJ Pernah Jadi Ajang Pemilihan Ratu Waria, Begini Kisahnya
    Inspiring You

    PRJ Pernah Jadi Ajang Pemilihan Ratu Waria, Begini Kisahnya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman21 Juni 2024Updated:21 Juni 2024Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, CNBC Indonesia – Pekan Raya Jakarta (PRJ) merupakan acara tahunan untuk memperingati Hari Ulang Tahun DKI Jakarta yang jatuh pada 22 Juni. Seperti biasanya acara yang terselenggara di Jiexpo Kemayoran ini oleh dimeriahkan berbagai pameran mulai dari kesenian, kuliner, hingga otomotif.

    Akan tetapi, belum banyak orang tahu bahwa PRJ dahulu bermula dari perayaan Ratu Belanda dan isinya tak hanya pameran, tapi juga diadakan pemilihan ratu waria.

    Bagaimana kisahnya?


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Perayaan Ratu Belanda

    Jejak awal PRJ dapat ditarik ke masa kolonial. Pada 1906, pemerintah kolonial Belanda mengadakan perayaan untuk memperingati penobatan Ratu Wilhelmina yang jatuh setiap 31 Agustus. Perayaan itu dinamakan Pasar Gambir. Sesuai namanya, perayaan diadakan di kawasan Gambir, tepatnya di Koningsplein yang kini Monumen Nasional.

    Pasar Gambir dilaksanakan setiap tahun dengan durasi waktu dua minggu. Biasanya dimulai pada akhir Agustus sampai pertengahan September. Acaranya tak dipungut biaya, alias gratis. Selama perayaan, Pasar Gambir diramaikan oleh berbagai hiburan masyarakat. Mulai dari pemutaran bioskop, kesenian musik hingga pertunjukan bela diri.

    Selain itu, pemerintah melakukan perancangan khusus agar lokasi pameran semakin meriah dan menarik perhatian masyarakat. Tak tanggung-tanggung, pemerintah sampai melibatkan arsitek ternama, J.H Antoinisse, untuk merancang bangunan pameran.

    Menurut Zeffry Alkatiri dalam Pasar Gambir, Komik Cina & Es Shanghai: Sisik Melik Jakarta 1970-an (2010), hasil rancangan itu memunculkan warna baru pada perayaan sebab stan-stan lokasi setiap tahunnya berbeda desain. Misalkan pada 1924, Pasar Gambir bergaya Jepang. Lalu tahun selanjutnya bergaya Minang, Dayak, dan sebagainya.

    Pada akhirnya, upaya pemerintah menyemarakkan pameran tersebut membuahkan hasil. Pasar Gambir sukses menjadi hiburan tahunan masyarakat yang tak sepi pengunjung. Hanya saja, pelaksanaannya berhenti total pada 1942 ketika Jepang menjajah Indonesia.

    Berubah Nama & Kontes Waria

    Ketika Indonesia merdeka, acara serupa pernah diadakan di Jakarta. Namun, tak sebesar Pasar Gambir. Barulah pada 1968, ide mengadakan kembali Pasar Gambir dimunculkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, (1966-1977). Dia rupanya punya memori tersendiri terkait perayaan itu.

    Sejak kecil, Ali sering mendengar cerita dari orang tua dan saudara terkait kemeriahan Pasar Gambir. Namun, dia sendiri tak bisa datang langsung ke sana karena Pasar Gambir keburu tutup akibat pendudukan Jepang di Indonesia.

    Atas dasar inilah, saat jadi penguasa Jakarta, dia ingin mewujudkan memori masa kecilnya itu. Terlebih, dia juga percaya perayaan serupa bisa menggenjot pendapatan Jakarta yang masih kecil. Maka, lahirlah perayaan baru yang melanjutkan Pasar Gambir dengan nama Jakarta Fair. Lokasinya berada di Monas.

    Nama Jakarta Fair dipilih Ali mengikuti perayaan serupa di luar negeri. Dia melihat banyak pameran sukses di dunia, seperti Hamburg Fair dan Leipzig Fair, yang mengemas acara menggunakan embel-embel “Fair”. Intinya dengan pakai “Fair” diharapkan Jakarta Fair kesuksesan itu bakal sukses.

    Menariknya, acara Jakarta Fair di tahun pertama bukan hanya terdapat pameran dan hiburan saja, tapi juga kontestasi ratu waria. Kontestasi pemilihan ratu waria dicetuskan Ali Sadikin untuk mengakomodasi kehidupan para waria di Jakarta.

    Dalam catatan Kelama Atmojo di Kami Bukan Lelaki: Sebuah Sketsa Kehidupan Kaum Waria (1986), kala itu, kelompok waria sudah banyak di Jakarta. Mereka tersebar di sudut-sudut kota. Akan tetapi, mereka hidup sengsara. Statusnya yang demikian membuat mereka seakan-akan tak punya hak hidup. Mereka seringkali dijauhi masyarakat.

    Dengan kondisi demikian, tutur Ali dalam otobiografinya Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1992), dia merasa bertanggungjawab atas nasib mereka. Baginya, kesengsaraan waria sama dengan kesengsaraan warga lain. Intinya, dia ingin mengangkat derajat kesejahteraan waria lewat pameran Jakarta Fair.

    Maka, terjadilah kontestasi ratu waria yang diikuti 151 peserta dan diadakan stan khusus bagi para waria. Berkat itu semua, para waria berhasil memunculkan gelak tawa dari hadirin yang mencapai 1,4 juta orang.

    Acara Jakarta Fair lantas menjadi perayaan rutin setiap tahun dalam rangka HUT Jakarta. Namun, pada 1992, nama Jakarta Fair berubah menjadi Pekan Raya Jakarta. Perubahan nama ini juga dibarengi oleh perpindahan lokasi ke bekas Bandara Kemayoran.

    (mfa/mfa)


    Selalu Semangat Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.