Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Lagi Musim Hujan, Kemenkes Warning Penyakit Mematikan Ini
    Inspiring You

    Lagi Musim Hujan, Kemenkes Warning Penyakit Mematikan Ini

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman12 Januari 2024Updated:12 Januari 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Sebagian besar wilayah di Indonesia sudah memasuki musim hujan. Berkaitan dengan cuaca ekstrem dan potensi banjir di sejumlah wilayah akibat hujan lebat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman leptospirosis.

    Menurut Kemenkes RI, leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri dari genus leptospira yang patogen. Di beberapa negara, penyakit yang diduga memiliki penyebaran terluas di dunia ini dikenal sebagai “demam urine tikus”.

    Pertahunnya, leptospirosis diperkirakan menimbulkan 1,03 juta kasus terinfeksi dan 58.900 kematian. Adapun, negara yang paling berpotensi terjangkit penyakit ini adalah negara iklim tropis dan sub-tropis, terutama negara kepulauan dengan curah hujan dan potensi banjir yang tinggi.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Di Indonesia, sumber utama penular leptospirosis adalah tikus, anjing, babi, sapi, dan kambing. Biasanya, leptospirosis ditularkan melalui urine atau air kencing binatang yang mengandung bakteri leptospira.

    “Infeksi dapat terjadi dengan kontak langsung atau melalui kontak dengan air sungai, danau, selokan, lumpur, atau tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira,” tulis Kemenkes RI melalui laman resminya, dikutip Jumat (12/1/2024).

    “Penyakit ini berkembang di alam diantara hewan, baik liar maupun domestik, dan manusia menjadi host yang merupakan infeksi akhir atau terminal karena belum terlaporkan infeksi dari manusia ke manusia,” lanjut Kemenkes RI.

    Gejala Leptospirosis dan Masa Inkubasi

    Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah banjir dan pemukiman banyak tikus; sering beraktivitas di sungai; rutin melakukan olahraga air; dan berprofesi sebagai petani, peternak, petugas kebersihan, hingga petugas pemotongan hewan adalah pihak yang paling berisiko tertular leptospirosis.

    Maka dari itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui bagaimana gejala leptospirosis. Berikut daftarnya.

    1. Demam di atas 38 derajat Celsius

    2. Sakit kepala

    3. Badan lemah

    4. Nyeri betis hingga sulit berjalan

    5. Kemerahan di selaput putih mata

    6. Mata dan kulit kekuningan

    7. Pembesaran hati dan limpa

    8. Tanda-tanda kerusakan ginjal

    “Masa inkubasi leptospirosis antara dua hingga 30 hari dengan rata-rata berlangsung tujuh sampai 10 hari,” ungkap Kemenkes RI.

    Daerah Sebaran Leptospirosis di Indonesia

    Menurut Kemenkes RI, sejumlah wilayah RI adalah daerah epidemis leptospirosis. Sejumlah provinsi yang pernah melaporkan kasus leptospirosis adalah.

    1. DKI Jakarta

    2. Banten

    3. Jawa Tengah

    4. DI Yogyakarta

    5. Jawa Timur

    6. Kalimantan Selatan

    7. Maluku

    8. Sumatra Selatan

    9. Kalimantan Timur

    10. Kalimantan Utara

    11. Sulawesi Selatan

    12. Sulawesi Tenggara

    13. Kepulauan Riau

    14. Bali

    Peringatan cuaca ekstrem dari BMKG

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah Indonesia, termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa hujan dan banjir di awal tahun 2024.

    “Kita lihat pantauan dari data citra radar kami, satelit kami, seminggu terakhir khususnya di DKI dan Jabodetabek secara umum mengalami hujan bervariasi, ringan bahkan sangat lebat sehingga menimbulkan banjir di wilayah-wilayah tertentu,” ungkap Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani dalam program Nation Hub CNBC Indonesia, Kamis (11/1/2024).

    Lebih lanjut, Andri mengatakan bahwa Jabodetabek mulai merasakan dampak puncak musim hujan yang sebelumnya diprediksi mulai masuk pada Januari hingga Februari 2024.

    “Kami juga pernah sampaikan di akhir tahun bahwa untuk DKI dan Bodetabek perlu waspadai puncak musim hujan mulai masuk di Januari hingga Februari,” kata Andri.

    “Ini sudah mulai terasa dampaknya dan dari hasil analisis terakhir kami pun ini akan masih berlanjut untuk sepekan ke depan,” imbuhnya.



    Artikel Selanjutnya


    Ini Biang Kerok Kasus Cacar Monyet di Indonesia Naik Tinggi

    (hsy/hsy)


    Berani sukses Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.