Jakarta, CNBC Indonesia – Pernikahan sesama wanita di Cianjur, Jawa Barat, terbongkar setelah aparat desa menelusuri identitas salah satu pengantin.
Kasus ini bermula setelah munculnya kabar heboh bahwa ada perempuan di Desa Pakuon, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur, dipinang seseorang dengan membawa uang miliaran rupiah. Kabar itupun membuat banyak orang penasaran.
Kepala Desa Pakuon, Abdullah, lalu berusaha mencari tahu sosok ‘sultan’ tersebut yang menjadi perbincangan warga desa.
“Kabar heboh awal itu bukan pernikahan sesama jenis, tapi ada pernikahan yang kabarnya bakal menghabiskan biaya besar sampai miliaran. Kemudian saya cek, takutnya terjadi sesuatu,” ujar Abdullah seperti dikutip detikcom, Senin (11/12).
Pemerintah desa kemudian menemui pihak keluarga untuk memastikan kebenaran soal rencana pernikahan yang menghebohkan seisi desa tersebut. Namun, calon pengantin laki-laki berinisial AD tidak bisa menunjukkan identitas diri, baik KTP ataupun identitas lainnya. Dia beralasan KTP-nya ditahan oleh ibunya yang tidak menyetujui rencana pernikahan mereka.
Hal inipun membuat perangkat desa curiga. Pihak desa menolak untuk memproses pernikahan tanpa ada identitas yang jelas.
Alih-alih memenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk menggelar pernikahan, AD malah menyatakan bahwa dia bersedia membayar perangkat desa untuk membantu pernikahannya. Lagi-lagi, ini membuat kecurigaan Abdullah berkembang makin besar.
“Karena pengalaman, ada yang nikah dengan lelaki yang tidak jelas identitasnya. Ternyata si laki-lakinya itu pelaku tindak kriminal. Makanya saya ingin ada kejelasan identitasnya,” tambahnya.
Tak lama setelah itu, Abdullah mendapat kabar bahwa AD dan perempuan asal desanya sudah resmi menikah. Setelah pernikahan, Abdullah menyebut muncul kegaduhan yang disebabkan utang-piutang biaya resepsi yang ternyata merupakan hasil pinjaman dari salah seorang warga. Fakta ini berbeda dari kabar heboh yang sebelumnya beredar bahwa AD membawa uang miliaran rupiah untuk meminang istrinya.
Karena kejadian itu beberapa orang warga pun membawa AD ke kantor kecamatan untuk dicek identitasnya. Dari sini, perangkat desa berhasil membongkar penyamaran AD.
“Kami penasaran siapa AD ini. Kalau di kecamatan kan sudah aksesnya secara online, jadi bisa ketahuan. Setelah dicek atau diidentifikasi, ternyata AD ini bukan laki-laki, tetapi perempuan asal Kalimantan. Dia memalsukan statusnya sebagai perempuan demi bisa menikahi kekasihnya yang merupakan warga Desa Pakuon,” kata dia.
Abdullah menyebut semua pihak tertipu dengan penyamaran AD. Bahkan orang tua dan mempelai wanita tidak mengetahui jika AD ini merupakan perempuan.
Artikel Selanjutnya
Potret Tampan Calon Menantu Sandiaga Uno yang Berkarir di AS
(hsy/hsy)
