Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Kesal Diremehkan, Pemuda Minang Nekat Kabur ke Mekkah
    Inspiring You

    Kesal Diremehkan, Pemuda Minang Nekat Kabur ke Mekkah

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman27 Juni 2023Updated:27 Juni 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Memoar perjalanan haji selalu memiliki tempat tersendiri dan menarik untuk disimak. Begitu pula yang diceritakan pemuda Minang bernama Malik pada Februari 1927.

    Kisah ini disampaikan oleh ulama besar Indonesia, yakni Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka, lewat memoar Kenang-Kenangan Hidup yang diceritakan ulang oleh peneliti Prancis Henri Chambert-Loire dalam Naik Haji di Masa Silam (2013).

    Berdasarkan penceritaan Hamka, saat itu Malik masih berusia 19 tahun dan tinggal di daerah Minangkabau atau Sumatera Barat. Entah apa penyebabnya, suatu waktu dia kecewa dan tersinggung karena merasa diremehkan oleh seluruh lingkungannya, khususnya oleh ayahnya sendiri.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dengan penuh rasa kesal itu, Malik mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan rumah dan pergi ke Mekkah untuk naik haji. Dia percaya kepergiannya ke rumah Allah membuat reputasinya terangkat dan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh keluarga dan teman-temannya.

    Namun masalahnya dia tidak punya uang banyak, tidak ada dukungan moril, dan tidak ada jaminan apapun. Meski begitu, tekadnya sudah bulat. Dia tetap nekat pergi ke Mekkah meski nyawa taruhannya. Dia pun menumpang kapal yang membawa 1.400 orang selama 15 hari dari Pelabuhan Belawan Medan, hingga ke Arab Saudi.

    Hamka bercerita, selama di kapal, Malik adalah seorang yang alim, saleh, dan pandai bergaul. Tak heran, dia punya banyak teman yang menemaninya selama di kapal. Selama itu pula dia berkenalan dengan orang Indonesia dari beragam golongan. Ada ulama, ada pula tokoh nasionalis. Semuanya memengaruhi pola pikir pemuda yang belum genap berkepala dua itu.

    Hingga akhirnya, setelah perjalanan selama dua pekan, Malik tiba di Mekkah. Saat di Tanah Suci, dia berupaya mencari kesibukan dengan mendaftarkan diri menjadi relawan pengajar di Masjidil Haram. Dia pun diterima.

    Meski begitu, kegiatan itu justru membuat Malik hidup kesusahan. Praktis, menjadi relawan membuat bayaran yang didapat juga tidak menentu. Alhasil, uangnya kian hari semakin sedikit. Bahkan, untuk makan pun susah. Apalagi, puncak ibadah haji masih dua bulan lagi.

    Beruntung dia bertemu dengan pengusaha percetakan Syekh Hamid Kurdi, yang masih saudara ipar ulama Minang, Ahmad Chatib. Dia diterima sebagai juru tulis selama dua bulan. Sejak itulah, kesejahteraannya meningkat.

    Singkat cerita, waktu yang ditunggu pun tiba. Tepat pada bulan Mei, rangkaian pelaksanaan Haji pun dimulai. Namun, saat puncak Haji berupa Wukuf di Arafah, dia nyaris meninggal.

    “Cuaca panas Arafah membuat Malik sakit parah sampai tidak dapat keluar dari kemahnya. Wukuf sebagai pengalaman luar biasa disertai keadaan lemah dan berbahaya menghasilkan goncangan jiwa hebat. Ia bersiap meninggal,” tulis Hamka.

    Entah keajaiban apa yang terjadi, Malik sembuh dari sakit keras dan berhasil menyelesaikan semua rukun haji. Dia pun merasa sudah menjadi orang baru yang lebih saleh. Derajatnya sedikit terangkat. Atas dasar inilah dia bergegas pulang kampung untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

    Lantas, dimulailah perjalanan pulang yang melelahkan. Akibat tidak punya uang, dia harus jalan kaki dari Mekkah ke Jeddah, lalu lanjut lagi ke pelabuhan. Lalu kemudian berlanjut 15 hari di kapal laut. Barulah setelah waktu pelayaran selesai, dia tiba di tanah Sumatera. Selanjutnya, dia melanjutkan perjalanan lagi via jalan kaki menuju Tanah Minang.

    Hingga akhirnya, setelah menempuh lebih kurang sebulan perjalanan, dia sampai di tanah kelahirannya. Berjumpa dengan teman, sanak saudara, dan keluarga. Dia pun tak lagi diremehkan oleh lingkungan. Kelak dia menjadi orang sukses dan cerita perjalanan haji Malik menjadi inspirasi bagi orang Minang.

    (mfa/mfa)


    Berani sukses Selalu Semangat
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.