Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»IQ Tinggi tidak Menjamin Kecerdasan Seseorang, Ini Buktinya!
    Inspiring You

    IQ Tinggi tidak Menjamin Kecerdasan Seseorang, Ini Buktinya!

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman15 Juni 2023Updated:16 Juni 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Kecerdasan seringkali diukur melalui hasil tes intelligence quotient (IQ). Setelah ditelusuri, ternyata tingkat kecerdasan manusia tidak hanya bisa dilihat berdasarkan kecerdasan intelektual atau IQ.

    Hal itu karena tes IQ hanya mengukur keterampilan khusus, seperti penalaran, memori, pemecahan masalah, dan tidak dapat menangkap gambaran yang lebih luas dari kemampuan seseorang secara keseluruhan.

    Sejumlah ahli mengatakan, satu tes kecerdasan saja, seperti tes IQ tidak dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kecerdasan.

    Profesor perkembangan manusia dan psikologi terapan di University of Toronto, Kanada, Keith Stanovich, mengatakan bahwa tes IQ sangat efektif dalam mengukur kemampuan mental tertentu, seperti logika, penalaran abstrak, kemampuan belajar, dan kapasitas memori kerja.

    Namun, hasil tes tersebut kurang akurat bila digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam membuat keputusan. Hal ini karena tes IQ tidak mampu untuk menilai kemampuan kritis seseorang dalam mengevaluasi informasi dan mengatasi bias kognitif intuitif yang bisa membuat seseorang ‘tersesat’.

    Stanovich mengatakan, secara efektif tes IQ tidak mampu untuk mengetahui potensi seseorang dalam membuat keputusan dan melakukan pemikiran yang rasional.

    “Tes IQ mengukur aspek penting dari fungsi kognitif dan cukup baik dalam memprediksi keberhasilan akademik dan pekerjaan,” ujar Stanovich, dikutip dari Yale School of Management, Kamis (15/6/2023).

    “Namun, tes IQ tidak mencakup sepenuhnya beragam keterampilan yang termasuk dalam ‘berpikir yang baik’. IQ bukanlah segalanya,” tegas Stanovich.

    Dalam bukunya yang berjudul What Intelligence Tests Miss, Stanovich menyatakan bahwa tes IQ dapat menentukan sejauh mana karier akademik dan profesional jutaan orang di Amerika Serikat (AS). Namun, ia menganggap bahwa masyarakat terlalu berlebihan terhadap tes IQ. Sebab, menurutnya tes IQ hanya mengukur sebagian kecil dari fungsi kognitif.

    Serupa dengan pernyataan Stanovich, Psikolog Kognitif di University of Plymouth, Inggris, Jonathan Evans, mengatakan bahwa tes IQ dinilai terlalu tinggi oleh masyarakat.

    “Tes IQ dinilai terlalu tinggi, dan saya pikir sebagian besar psikolog akan setuju dengan itu,” ujar Evans. “IQ hanya sebagian kecil dari kepintaran seseorang,” imbuhnya.

    Hasil IQ telah lama dikritik karena dianggap tidak menjadi indikator yang akurat untuk mengukur kecerdasan menyeluruh seseorang, serta ketidakmampuannya dalam memprediksi seberapa baik seseorang akan berhasil dalam suatu profesi tertentu.

    Pada 1981, pakar paleontologi, Stephen Jay Gould dalam bukunya yang berjudul The Mismeasure of Man berpendapat bahwa kecerdasan umum hanyalah hasil matematis semata dan penggunaannya tidak memiliki dasar ilmiah, serta cenderung diskriminatif secara budaya dan sosial.

    Selama lebih dari 25 tahun, Howard Gardner dari Harvard Graduate School of Education telah mengusulkan pandangan bahwa kapasitas kognitif sebaiknya dipahami dalam konteks kecerdasan ganda, yakni yang meliputi kecerdasan matematika, verbal, visual-spatial, fisik, naturalistik, reflektif diri, sosial, dan musikal.

    Sebuah studi yang dipublikasikan Journal of Economic Perspective, melakukan penelitian terkait bagaimana kemampuan berpikir rasional berbeda dengan kecerdasan seseorang. Dalam penelitian tersebut, para peneliti membuat pertanyaan sebagai berikut.

    “Jika lima mesin membutuhkan waktu 5 menit untuk membuat lima widget, berapa lama dibutuhkan oleh 100 mesin untuk membuat 100 widget?”

    Hasilnya, Sebagian besar subjek penelitian langsung menjawab dengan angka yang salah namun terasa “benar”, yaitu 100, meskipun kemudian mereka memperbaikinya.

    Lalu, ketika para peneliti mengajukan pertanyaan ini beserta dua pertanyaan lain yang juga kontra-intuitif kepada sekitar 3400 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan universitas di AS, termasuk Harvard dan Princeton, hanya 17% yang dapat menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan benar. Sebanyak sepertiga dari mahasiswa tersebut gagal memberikan jawaban yang benar.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT


    Artikel Selanjutnya


    11 Tanda Kecerdasan Seseorang selain IQ Tinggi, Anda Punya?

    (Sumber: CNBC.com )


    Ide Sukses True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.