Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Gejala & Penularan Cacar Monyet yang Sudah Masuk Indonesia
    Inspiring You

    Gejala & Penularan Cacar Monyet yang Sudah Masuk Indonesia

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman20 Oktober 2023Updated:20 Oktober 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengonfirmasi dua kasus penyakit cacar monyet atau monkeypox di Indonesia. Kedua kasus tersebut ditemukan di DKI Jakarta.

    “Belum lama ini, kemarin (Sabtu, 14 Oktober 2023) kita mendapatkan laporan kembali satu kasus, sehingga sampai pada hari ini kita mempunyai dua kasus konfirmasi yang kebetulan keduanya berada di Jakarta,” ujar Anggota Tim Kerja Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kemenkes, Chita Septiawati, dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (20/10/2023).

    Sebelumnya, pada 2022 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan penyakit cacar monyet sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Asal-usul cacar monyet

    Melansir dari laman resmi Kemenkes RI, cacar monyet adalah penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus monkeypox tergolong ke dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae.

    Penyakit cacar monyet pertama kali ditemukan pada 1958, yakni saat terdapat wabah penyakit mirip cacar yang menyerang monyet peliharaan untuk penelitian. Adapun, kasus cacar monyet pertama yang menjangkit manusia pertama kali ditemukan pada 1970 di Republik Demokratik (RD) Kongo.

    “Sejak saat itu, kasus cacar monyet menginfeksi orang-orang di beberapa negara Afrika Tengah dan Afrika Barat lainnya, seperti Kamerun, Republik Afrika Tengah, Pantai Gading, RD Kongo, Gabon, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone,” tulis Kemenkes, dikutip Jumat (20/10/2023).

    Cara penularan penyakit cacar monyet

    Mengutip dari laman resmi WHO, penyakit cacar monyet dapat ditularkan kepada manusia melalui kontak fisik dengan pasien terinfeksi, benda yang terkontaminasi, atau hewan yang terinfeksi.

    Secara rinci, berikut cara penularan penyakit cacar monyet akibat kontak dengan manusia, hewan, dan benda yang terkontaminasi.

    1. Antar-manusia. Penularan bisa terjadi melalui kontak face-to-face (berbincang atau hembusan napas), droplet, sentuhan, ciuman, atau hubungan seksual.

    2. Hewan. Penularan bisa terjadi saat berburu, menguliti, atau memasak hewan yang terinfeksi.

    3. Benda. Penularan bisa terjadi melalui sprai, pakaian, atau jarum yang terkontaminasi.

    4. Ibu Hamil. Ibu hamil dapat menularkan virus penyebab penyakit cacar monyet kepada bayi yang belum lahir.

    “Penyakit cacar monyet dapat dicegah dengan menghindari kontak fisik dengan seseorang yang terjangkit. Selain itu, vaksinasi juga dapat membantu mencegah infeksi bagi orang yang berisiko,” tulis WHO.

    Gejala penyakit cacar monyet

    Menurut WHO, tanda dan gejala penyakit cacar monyet umumnya muncul dalam waktu tujuh hari, tetapi dapat muncul mulai satu sampai 21 hari setelah terpapar.

    “Biasanya gejala berlangsung selama dua hingga empat minggu, tetapi bisa berlangsung lebih lama pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah,” sebut WHO.

    Berikut gejala umum penyakit cacar monyet.

    1. Ruam

    2. Demam

    3. Sakit tenggorokan

    4. Sakit kepala

    5. Nyeri otot

    6. Nyeri punggung

    7. Lemas

    8. Pembengkakan kelenjar getah bening

    Umumnya, ruam dimulai sebagai luka yang kemudian melepuh dan berisi cairan. Luka melepuh berisi cairan itu akan terasa gatal atau menyakitkan. Setelah ruam sembuh, lesi akan mengering, membentuk kerak, dan hilang.

    Adapun, lesi kulit bisa muncul di telapak tangan atau telapak kaki, wajah, mulut, tenggorokan, selangkangan, area genital, dan anus.

    “Beberapa orang juga dapat mengalami pembengkakan yang menyakitkan di sekitar rektum atau rasa sakit dan kesulitan saat buang air kecil,” papar WHO.


    Artikel Selanjutnya


    4 Gejala Utama Stunting, Bukan Cuma Tubuh Pendek

    (hsy/hsy)


    Ide Sukses Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.