Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Bullying Calon Dokter, Dijadikan Pembantu hingga Urus Laundry
    Inspiring You

    Bullying Calon Dokter, Dijadikan Pembantu hingga Urus Laundry

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman20 Juli 2023Updated:20 Juli 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengungkap tradisi toksik bullying (perundungan) di lingkungan pendidikan kedokteran. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, salah satu bentuk bullying paling umum adalah calon dokter yang masih junior diperlakukan sebagai asisten pribadi atau pembantu pribadi oleh para pelaku.

    Bahkan, ada juga yang korban dijadikan layaknya ‘ATM berjalan’ karena diminta membelikan barang keperluan para seniornya. 

    “Peserta didik ini digunakan sebagai asisten, sebagai sekretaris, sebagai pembantu pribadi lah. Disuruh nganterin laundry, bayarin laundry, nganterin anak, ya kemudian ngurusin parkir, ambilin ini, ambilin itu, jadi asisten pribadi,” ungkap Budi dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Kamis (20/7/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Alasan banyak calon dokter jadi korban bullying 

    “Perundungan ini biasanya digunakan dengan alasan bahwa kita harus membentuk karakter dokter-dokter mudanya,” ujar Budi.

    “Saya setuju karakter dokter-dokter itu harus dibentuk, tapi dibentuknya, kan, bukan hanya dengan kekerasan untuk bisa mencapai atau membentuk ketangguhan dari yang bersangkutan, tapi juga yang harus dibentuk rasa empatinya, rasa simpati kepada pasien, cara komunikasi. Itu menurut saya penting,” sambungnya.

    Menkes mengungkapkan bahwa selama ini sebagian besar rumah sakit enggan mengakui kasus perundungan yang terjadi di lingkungannya, padahal peserta didik dan bahkan orang tua sering mengadu kasus perundungan di rumah sakit.

    “Kalau saya tanya ke pimpinan (rumah sakit) selalu dijawab “Tidak ada,” Saya enggak tahu apakah ini denial, tapi kalau saya tanya ke bawah, selalu ada,” ungkap Menkes.

    “Kalau ditanya ke bawah (peserta didik), [jawabannya] “Ya, ampun, pak,”. Kalau kita tanya ke orang tua mahasiswa kedokteran, [jawabannya] “Ya, ampun, pak, kenapa anak saya diginiin (mengalami perundungan),” lanjutnya.

    Terkait masalah laten ini, Kemenkes telah menyediakan situs web dan saluran siaga (hotline) bagi para korban perundungan di rumah sakit vertikal Kemenkes.

    Budi mengatakan, sistem laporan perundungan di rumah sakit vertikal Kemenkes dapat diakses melalui www.perundungan.kemkes.go.id dan hotline 0812-9979-9777. Nantinya, data laporan yang masuk akan langsung diterima oleh Inspektorat Jenderal Kemenkes.



    Artikel Selanjutnya


    Viral Pengobatan Tradisional Ida Dayak, Kemenkes Buka Suara

    (hsy/hsy)


    Ide Sukses Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.