Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Bukan Pelakor, Ini Penyebab No 1 Kehancuran Rumah Tangga
    Inspiring You

    Bukan Pelakor, Ini Penyebab No 1 Kehancuran Rumah Tangga

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman10 Maret 2023Updated:11 Maret 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Ada banyak penyebab rusaknya hubungan rumah tangga, mulai dari pasangan yang tidak setia, masalah ekonomi, hingga ketidakcocokan visi-misi dalam hidup. Namun, dari sekian banyak alasan, penyebab utama rumah tangga bubar ternyata bukan perselingkuhan. 

    Psikolog dan seksolog John Gottman, lewat buku “What Predicts Divorce?”, mengungkap ada empat penyebab perceraian dalam rumah tangga, yaitu penghinaan, kritik, sifat defensif, dan juga stonewalling. Jawaban ini dia dapatkan setelah melakukan penelitian terhadap 40.000 pasangan selama lebih dari 50 tahun. 

    “Dari keempatnya, prediktor terbesar dari hubungan yang gagal adalah penghinaan,” kata Gottman seperti dikutip CNBC Make It, Jumat (10/3/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Menurut Gottman, penghinaan akan bermuara menjadi perkataan yang negatif. Saat itulah salah satu pasangan menyatakan bahwa mereka lebih pintar atau lebih baik, sementara yang lain merasa direndahkan dan tidak dicintai.

    Ia mencontohkan, misalnya tindakan terus menyela perkataan pasangan dengan tidak sopan. Hal itu mengindikasikan bahwa seseorang memandang pasangannya tidak memiliki sesuatu yang menarik atau penting untuk dikatakan.

    “Ketika perilaku ini menjadi lebih sering terjadi, hubungan apa pun, apalagi pernikahan, berada dalam masalah.”

    Penghinaan pun akhirnya akan membuat pasangan tidak merasa adanya saling support di antara keduanya. Pasalnya, pasangan yang seharusnya menjadi mitra akan terasa sebagai musuh.

    Untuk menghilangkan penghinaan dalam hubungan, Gottman mengatakan perlu adanya saling keterbukaan mengenai emosi yang dirasakan. Misalnya saat salah seorang pasangan membatalkan makan malam, alih-alih memaki, cukup nyatakan perasaan sedih seterbuka mungkin dengan permintaan.

    “Untuk menghindari komunikasi yang menghina, nyatakan apa yang Anda rasakan, tambahkan dengan permintaan, dan juga ajak pasangan Anda untuk sama-sama berpikir dalam percakapan itu,” jelasnya.

    Cara kedua adalah mengekspresikan penghargaan. Ini membantu pasangan agar memperhatikan lebih banyak kualitas positif daripada kualitas negatifnya.

    “Lacak pola komunikasi Anda selama seminggu. Seberapa sering Anda terlibat dalam interaksi negatif (mis., mengomel, mengkritik, mengabaikan, memutar mata) versus yang positif (mis., memuji, melengkapi, melakukan sesuatu yang baik untuk pasangan lain)?,” tambah Gottman.


    Artikel Selanjutnya


    Pola Hubungan Begini Bisa Berujung Jadi Perselingkuhan Lho…

    (hsy/hsy)


    Berani sukses Ide Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.