Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Bisnis Ini Potensi Cuan Rp300 Juta, Cuma Modal Air Mata
    Inspiring You

    Bisnis Ini Potensi Cuan Rp300 Juta, Cuma Modal Air Mata

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman15 Desember 2023Updated:15 Desember 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Saat ada anggota keluarga atau teman dekat meninggal, derai air mata dan suara tangisan selalu ada sebagai salah satu bentuk tanda berduka. Namun, apa jadinya jika tidak ada suara tangisan dan air mata di acara kematian?

    Inilah yang kemudian memantik ide bisnis unik dan nyeleneh, yakni bisnis pelayat profesional yang dibayar untuk menangis sejadi-jadinya. Di Asia Timur, khususnya China dan Taiwan, bisnis ini sangat masif.

    Perlu diketahui, mengutip Taipei News, masyarakat China dan Taiwan punya budaya tersendiri terkait kematian. Di acara persemayaman dan pemakaman ada alokasi waktu khusus kepada sanak saudara dan teman untuk memberi ucapan belasungkawa kepada keluarga, sekaligus mendoakan mendiang.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Masalahnya, tak semua orang bisa datang ke acara tersebut karena anggota keluarga hidup tersebar di banyak kota. Alhasil, akibat tak mau acara persemayaman dan pemakaman menjadi sepi karena berkaitan dengan status sosial, pihak keluarga memperbolehkan orang lain tak dikenal datang untuk menangis dan mendoakan. Tentu saja, itu semua ada bayarannya.




    Foto: AFP via Getty Images/DIMITAR DILKOFF
    TOPSHOT – A woman mourns while visiting the grave of Stanislav Hvostov, 22, a Ukrainian serviceman killed during the Russian invasion of Ukraine, in the military section of the Kharkiv cemetery number 18 in Bezlioudivka, eastern Ukraine on May 21, 2022. (Photo by Dimitar DILKOFF / AFP) (Photo by DIMITAR DILKOFF/AFP via Getty Images)

    Atas dasar inilah, perempuan asal Taiwan, Liu Chun-Lin, menjalani profesi menjadi pelayat. Sebagai catatan, Liu awalnya hidup miskin dan sebatang kara. Untuk hidup sehari-hari dia diharuskan bekerja sejak remaja. Namun, upaya itu tetap saja membuatnya miskin dan tak bisa memupuk kekayaan. Hingga akhirnya, di usia 30 tahun atau sekitar tahun 2005 dia alih profesi jadi pelayat.

    Dalam laporan BBC, Liu kerap diundang ke acara kematian hanya untuk menangis, mendoakan dan meminta orang yang meninggal untuk bangun kembali. Dengan dibalut pakaian nuansa hitam atau putih dia berdiri di samping peti jenazah untuk bekerja.

    “Pah, anakmu kangen banget. Jangan tinggalkan aku, Pah!,” ujar Liu mencontohkan saat berpura-pura sedih dan menangis.

    Ketika sudah selesai berakting seperti itu, Liu baru mendapat bayaran. Dia mengaku mendapat uang US$ 600 atau sekitar Rp 9 juta di masa kini. Tentu saja ini jadi bayaran fantastis bagi Liu yang hidup luntang-lantung.

    Terlebih, uang segitu diperoleh dari satu acara saja. Jadi, bisa dibayangkan kalau banyak orang meninggal, maka pasti dompet Liu akan menebal. Liu pun mengaku setelah menjalani profesi ini, hidupnya berubah drastis menjadi lebih sejahtera. Keberhasilan ini kemudian membuatnya mendirikan usaha pelatihan untuk menjadi pelayat profesional.

    Tak hanya Liu, perempuan China lain bernama Dingding Mao juga merasakan hal serupa. Dia awalnya hidup miskin karena terkena PHK. Namun, setelah menjalani profesi ini Mao langsung kaya raya.

    Terlebih, Mao berbeda dengan Liu. Dia tak hanya memberikan jasa menangis saja, tetapi juga hiburan. Kepada NPR News, Mao kerap memberikan tarian-tarian di samping peti jenazah supaya keluarga tak larut dalam kesedihan dan semakin menambah ramai acara persemayaman. Tentu saja, ada bayaran lebih jika melakukan hal ini.

    Fenomena bisnis semacam ini kemudian memberi inspirasi di negara-negara lain di dunia. Di Ghana, CNN International pernah membuat laporan bagaimana industri pemakaman jadi salah satu sektor bisnis besar di negara tersebut.

    Seseorang bisa meraup untung puluhan dolar di satu kali acara saja. Semakin besar acaranya, makin besar pula keuntungan yang didapat. Begitu pula jika makin syahdu menangis, bayarannya makin besar.

    Menariknya, kegiatan ini tak hanya dilakukan tiap individu saja. Bahkan, ada event organizer khusus untuk menyebar banyak orang ke acara pemakaman supaya bisa meriuhkan suasana. Total cuannya mencapai US$ 15.000 sampai US$ 20.000 atau setara Rp 200-300an juta.

    Sejauh ini di Indonesia belum ada profesi bisnis menjadi pelayat yang berpura-pura menangis. Namun, dengan melihat potensi cuan luar biasa, tidak menutup kemungkinan bisnis ini bakal ada di Indonesia suatu saat nanti.

    (mfa/mfa)


    Inspirasi Sukses Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.