Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Apakah Saraf Kejepit Harus Dioperasi? Ini Penjelasan Dokter
    Inspiring You

    Apakah Saraf Kejepit Harus Dioperasi? Ini Penjelasan Dokter

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman23 Juni 2023Updated:23 Juni 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Saraf kejepit adalah kondisi saat jaringan di sekitar saraf, seperti tulang, otot, dan tendon atau jaringan tebal yang melekatkan otot ke tulang menekan terlalu kencang sehingga sekumpulan saraf mengalami kerusakan.

    Bila saraf kejepit terjadi, penderita akan merasakan nyeri, kebas, dan kesemutan di bagian tubuh tertentu. Saraf kejepit di pinggul akan menimbulkan rasa sakit yang menjalar hingga ke kaki. Sementara itu bila saraf kejepit terjadi di leher, rasa sakitnya akan menjalar ke tangan.

    “Jadi, saraf kejepit, tuh, banyak tandanya. Kalau saraf kejepit di pinggang, pasti rasa sakitnya menjalarnya ke pantat lalu turun ke bawah sampai ke betis atau telapak kaki. Tergantung levelnya,” ujar dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, dr. Harmantya Mahadhipta, dikutip dari akun YouTube resmi Eka Hospital, Jumat (23/6/2023).

    “Tapi kalau misalnya saraf kejepit di leher, rasa sakitnya ke tangan,” imbuh dr. Harman.

    Harman menjelaskan bahwa tidak semua kasus saraf kejepit harus ditangani dengan tindakan operasi. Bila saraf kejepit terjadi dalam kurun waktu satu minggu, pasien dapat menjalani perawatan tanpa operasi.

    “Satu-satunya yang harus operasi kalau misalnya saraf kejepit di bagian pinggang atau bila terjadi cauda equina syndrome yang menyebabkan enggak bisa buang air kecil dan buang air besarnya enggak terkontrol,” papar dr. Harman.

    Lantas, bagaimana tindakan perawatan saraf kejepit tanpa operasi?

    Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi konsultan muskuloskeletal, dr. A. Penny Kusumastuti, menjelaskan bahwa tindakan rehabilitasi medik bagi penderita saraf kejepit mampu mengurangi rasa sakit serta relaksasi dan penguatan otot tubuh.

    “Kalau memang terjepit, tentu yang paling bagus adalah menghilangkan jepitan dengan operasi. Namun, operasi ada indikasinya tertentu, yakni sakitnya sangat berat, ada kelumpuhan, dan sebagainya,” ujar dr. Penny.

    Menurut dr. Penny, pasien dengan kondisi saraf kejepit ringan masih dapat menjalani program latihan fisioterapi untuk mengurangi rasa sakit dan sejumlah program latihan stabilitasi.

    “Yaitu menguatkan otot-otot lumbal (tulang punggung bawah), perut, dan dasar panggul,” kata dr. Penny.

    Menurut dr. Penny, program latihan fisioterapi tersebut dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu dan tiga hingga enam kali terapi.

    Sebagai informasi, penyakit saraf kejepit tidak hanya dialami oleh orang lanjut usia. Seseirang dengan usia produktif 25 hingga 40 tahun juga dapat berisiko mengalami saraf terjepit.

    Umumnya, faktor yang memengaruhi terjadinya saraf kejepit adalah faktor genetik, usia, dan rutinitas terlalu sering duduk hingga berjam-jam.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    (Sumber: CNBC.com )


    Inspirasi Sukses Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.