Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Ayah-Bunda Jangan Sering Memuji Anak, Ini Dampak Buruknya
    Inspiring You

    Ayah-Bunda Jangan Sering Memuji Anak, Ini Dampak Buruknya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman29 Oktober 2024Updated:29 Oktober 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    JakartaDexpert.co.id – Pujian adalah salah satu bentuk afirmasi positif yang dapat menyenangkan hati dan membangkitkan semangat seseorang, termasuk anak-anak. Namun, ternyata ahli tidak merekomendasikan orang tua untuk terus-menerus memuji anak. Apa alasannya?

    Melansir dari Psychology Today, Dr. Jim Taylor dari University of San Francisco mengungkapkan bahwa pujian ternyata mampu mengganggu dan merusak perkembangan anak. Dr. Taylor menyebut, pujian seperti “Kerja bagus!”, “Bagus sekali!”, atau “Kamu hebat” cenderung tidak memberikan dampak positif apapun bagi anak.

    “Itu adalah contoh pujian yang malas, tidak berguna, dan merugikan,” kata Dr. Taylor, dikutip Jumat (25/10/2024).

    Menurut Dr. Taylor, tiga contoh kalimat tersebut tidak spesifik karena tidak menjelaskan kepada anak apa hal baik yang berhasil dilakukan. Selain itu, “Kerja bagus!” cenderung menunjukkan bahwa pujian berfokus pada hasil, bukan prosesnya.

    Maka dari itu, orang tua disarankan untuk mengganti kalimat “Kerja bagus!”, “Bagus sekali!”, atau “Hebat sekali” menjadi “Usaha bagus!”, “Kamu bekerja sangat keras dalam mempersiapkan diri untuk ujian ini,” hingga “Kamu tadi sangat fokus selama pertandingan,” karena berfokus pada proses bekerja anak.

    “Anak-anak tidak perlu dipuji ‘Kamu hebat’ ketika mereka berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Sebab, itu sudah jelas dengan sendirinya,” jelas Dr. Taylor.

    “Anak perlu diberi tahu mengapa mereka melakukannya dengan baik sehingga proses itu bisa dilakukan kembali di masa depan demi mendapatkan hasil positif yang sama,” lanjutnya.

    Sebuah studi menunjukkan bahwa cara orang tua memuji memiliki pengaruh yang kuat pada perkembangan mereka anak-anak. Berdasarkan hasil penelitian Claudia Mueller dan Carol Dweck dari Columbia University, anak-anak yang dipuji berkat kecerdasan, bukan usaha malah menjadi terlalu fokus pada hasil.

    Setelah mengalami kegagalan, anak-anak tersebut justru jadi kurang gigih, kurang menikmati, mengaitkan kegagalan mereka dengan kurangnya kemampuan yang diyakini tak dapat diubah, dan berkinerja buruk.

    “Memuji anak-anak atas kecerdasan mereka membuat mereka takut akan kesulitan karena mereka mulai menyamakan kegagalan dengan kebodohan,” kata Dweck.

    Lalu, terlalu sering dipuji juga tidak baik bagi anak. Penelitian telah menemukan bahwa siswa yang kerap dipuji lebih berhati-hati dalam menanggapi pertanyaan, kurang percaya diri dengan jawaban, kurang gigih dalam mengerjakan tugas yang sulit, dan kurang bersedia untuk berbagi ide.

    Sebaliknya, Mueller dan Dweck menemukan bahwa anak-anak yang dipuji atas usaha mereka menunjukkan minat yang lebih besar dalam belajar, gigih, cenderung senang, mengaitkan kegagalan dengan kurangnya usaha sehingga yakin dapat diubah, dan berprestasi baik dalam aktivitas pencapaian berikutnya. Memberikan penghargaan atas usaha juga mendorong anak untuk berusaha lebih keras dan mencari tantangan baru.

    “Dorongan orang tua terhadap strategi pembelajaran membantu anak-anak membangun rasa tanggung jawab dan kendali pribadi atas karier akademis mereka,” jelas peneliti dari Clark University, Wendy Grolnick.

    Sedangkan pada anak kecil, Dr. Taylor menyebut bahwa orang tua tidak perlu memuji mereka sama sekali. Hal terbaik yang dapat orang tua lakukan adalah cukup menyoroti apa yang mereka lakukan.

    “Sebagai alternatif lain untuk memuji, ajukan saja pertanyaan kepada anak-anak untuk mencari tahu apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentang pencapaian,” imbau Dr. Taylor.

    “Misalnya, ‘Apa yang paling kamu suka dari penampilanmu?’ dan ‘Bagaimana perasaanmu tentang apa yang baru saja kamu lakukan?’ Biarkan anak-anak Anda memutuskan sendiri bagaimana perasaan mereka tentang pencapaian mereka,” lanjutnya.

    Dr. Taylor menegaskan para orang tua untuk memberi anak-anak kesempatan dalam menghargai diri sendiri atas usahanya. Selain itu, dorong anak-anak untuk menginternalisasi apa yang mereka amati tentang upaya pencapaian mereka sendiri.

    (rns/rns)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Bank Mega Gelar ‘Fun Walk 5K Like A Billionaire’





    Next Article



    Mau Punya Anak Sukses? Orangtua Jangan Katakan 4 Kalimat Ini



    Never Give Up Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.